Serangan Ubur-ubur di Pantai Gunungkidul Diprediksi Hingga September
Pengunjung kawasan pantai di Gunungkidul diminta untuk mewaspadai potensi serangan ubur-ubur. Diprediksi kemunculan hewan ini sampai pertengahan September 2026.
Ilustrasi. /JIBI-Sunaryo Haryo Bayu
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Sejumlah kapanewon di Kabupaten Gunungkidul mulai bersiap menghadapi ancaman kekeringan dengan menyiapkan program droping air bersih. Bantuan ini dijadwalkan mulai disalurkan pada pekan kedua Juli 2026 seiring meningkatnya kebutuhan air masyarakat saat musim kemarau.
Panewu Purwosari, Subiyantoro, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp79,6 juta untuk program droping air tahun ini. Persiapan teknis juga telah dilakukan melalui koordinasi dengan kalurahan.
“Hasil pendataan, ada 10 padukuhan di Kalurahan Giripurwo dan lima padukuhan di Giricahyo yang mengajukan bantuan air bersih,” ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, penyaluran bantuan tinggal menunggu penyelesaian kontrak dengan penyedia jasa. Jika proses administrasi rampung, distribusi air akan segera dilakukan.
“Target kami minggu depan sudah mulai disalurkan,” katanya.
Hal serupa juga dilakukan di Kapanewon Tepus. Kepala Jawatan Sosial, Sukisno, menyebut wilayahnya mendapat alokasi anggaran Rp76,8 juta yang diperkirakan mampu mendistribusikan hingga 422 tangki air bersih.
Ia menjelaskan, lima kalurahan di Tepus—yakni Tepus, Sidoharjo, Purwodadi, Sumberwungu, dan Giripanggung—merupakan daerah langganan kekeringan setiap musim kemarau.
“Setiap tahun kami pasti melakukan droping air karena wilayah ini memang rawan kekurangan air bersih,” ujarnya.
Sementara itu, Kapanewon Gedangsari juga telah menyiapkan anggaran sebesar Rp79,8 juta untuk distribusi sekitar 266 tangki air. Panewu Gedangsari, Eko Krisdiyanto, mengatakan sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan sehingga rentan mengalami krisis air saat kemarau panjang.
“Enam dari tujuh kalurahan di Gedangsari biasanya membutuhkan bantuan air bersih,” katanya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada permohonan resmi yang masuk. Namun, pihak kapanewon memastikan kesiapan distribusi jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Di tingkat kabupaten, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul menyiapkan total 1.150 tangki air bersih untuk tahun ini. Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menjelaskan bahwa penyaluran akan diprioritaskan menggunakan anggaran kapanewon sesuai rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
“BPBD menjadi cadangan. Jadi bantuan dari kapanewon digunakan terlebih dahulu agar tidak terjadi tumpang tindih,” jelasnya.
Purwono juga mengingatkan masyarakat untuk mulai berhemat air sejak dini. Pasalnya, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dengan berbagai persiapan tersebut, pemerintah daerah berharap dampak kekeringan di Gunungkidul dapat ditekan, sekaligus memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pengunjung kawasan pantai di Gunungkidul diminta untuk mewaspadai potensi serangan ubur-ubur. Diprediksi kemunculan hewan ini sampai pertengahan September 2026.
Polisi tangkap satu terduga pelaku penyerangan anggota di Katingan. Pelaku lain masih diburu aparat gabungan.
PSIM Jogja resmi melepas Anton Fase jelang Super League 2026/2027. Cedera jadi faktor utama minimnya kontribusi pemain asal Belanda itu.
Menko PMK Pratikno minta dukungan DIY untuk Gerakan RANA. Fokus pada ruang aman anak, pendidikan inklusif, dan kesehatan mental.
PSS Sleman resmi mempertahankan Dominikus Dion. Gelandang muda ini jadi kunci kebangkitan Super Elja ke Super League.
Gunungkidul siapkan droping air bersih mulai pekan kedua Juli. Total 1.150 tangki disiapkan untuk antisipasi kekeringan.