Pemutihan Denda PBB Klaten 2026, Bayar Pokok Saja hingga 31 Desember
Pemkab Klaten hapus denda PBB 2020-2025. Warga cukup bayar pokok pajak hingga 31 Desember 2026.
Pameran yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) berkolaborasi dengan mahasiswa, Rabu (2/5/2018)./Harian Jogja- Meigitaria Sanita
Harianjogja.com, SLEMAN- Refleksi 20 tahun reformasi 1998 dilangsungkan mulai 1-21 Mei 2018 di enam kampus di DIY.
Keenam kampus tersebut Yaitu UIN Sunan Kalijaga, UPN, UST, UMY, ISI dan UJB. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) yang berkolaborasi dengan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jogja.
Selain untuk mengingatkan bagaimana aksi kelam sejarah Orde Baru, pameran tersebut juga sebagai wadah untuk mengingatkan kepada masyarakat agar cerdas dalam memilih partai politik serta pemimpin di 2019 yang akan datang serta bagaimana aksi yang mahasiswa yang tidak berdasarkan kepentingan politik.
Pameran foto peristiwa 1998 menampilkan foto-foto aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dalam melengserkan Soeharto pada rezim Orde Baru. Selain itu juga ada diskusi mengenai bagaimana seharusnya aksi yang dilakukan mahasiswa tanpa campur tangan kepentingan politik.
Agus Bintoro selaku koordinator acara menyampaikan tujuan kegiatan tersebut sebagai pengingat bagaimana sejarah Orde Baru.
“Tujuan kami pameran untuk memperingati 20 tahun reformasi 98, bagaimana kami mengingatkan kepada seluruh masyarakat, mahsiswa, civitas academicca yang saat itu menjelang jatuhnya rezim Orde Baru turun bersama-sama menyuarakan aspirasinya,” ungkapnya, Rabu (2/5/2018).
Pada pameran ini terpasnag spanduk bertuliskan UNTUK ALASAN APAPUN KAMI TAK MAU KEMBALI KE ORDE BARU. Tulisan itu dimaksudkan para aktivis mengajak masyarakat dan mahasiswa agar cerdas dalam memandang dan mempertimbangkan partai politik yang akan dipilih.
Mengingat sudah dekat dengan musim politik 2019 mendatang. Hal itu disampaikan agar Orde Baru tidak muncul lagi.
“Menolak rezim Orde Baru muncul kembali, apalagi ini menjelang kontestasi politik 2019 bahwa yang muncul hari ini banyak partai-partai ataupun sisa-sisa Orde Baru yang punya jejak kelam masa lalu ini sudah bermunculan nah warga masyarakat, mahasiswa harus cerdas menentukan pilihan-pilihan politik."
"Jadi kroni-kroninya sampai hari ini ada Partai Berkarya dan sebagainya ini jelas siapa orang-orangnya, mereka punya riwayat apa termasuk beberapa calon kandidat yang hari ini mempunyai sejarah kelam,” ujarnya.
Selain itu para aktivis 98 juga menghimbau agar mahasiswa bersikap kritis namun tetap terpuji dan intelektual. Dari pameran foto peristiwa 1998 diharapkan pergerakan dan aksi mahasiswa dalam mengkritisi pemerintah bukan berdasarkan kepentingan politik.
“Melalui pameran foto ini mahasiswa mempertimbangan bagaimana memperjuangkan rakyat harus mulai tertata jangan sampai terombang-ambing dipenuhi kepentingan politik,” ungkap Agus Bintoro.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Klaten hapus denda PBB 2020-2025. Warga cukup bayar pokok pajak hingga 31 Desember 2026.
Hari Keluarga Internasional 2026 menyoroti dampak ketimpangan sosial terhadap kesejahteraan anak dan kondisi keluarga.
Enam wakil Indonesia gugur di Thailand Open 2026. Leo/Daniel dan Hira/Jani jadi harapan terakhir menuju semifina
PSEL Regional DIY mundur hingga 2028, DLH Sleman bentuk pendamping pengelolaan sampah di 17 kapanewon dan 86 kalurahan.
Simak daftar lengkap jalur Trans Jogja aktif beserta tarif terbaru dan sistem pembayaran nontunai di Yogyakarta.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa