Angkat Potensi Seni, Warga Sidorejo Pilih Gelar Festival Budaya

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Senin, 07 Mei 2018 05:17 WIB
Angkat Potensi Seni, Warga Sidorejo Pilih Gelar Festival Budaya

Warga Sidorejo Ngestiharjo Kasihan Bantul menggelar Festival Budaya Telaga Semarseto #2, Minggu (6/5/2018)./Harian Jogja-Abdul Hamid Razak

Harianjogja.com, Bantul-Warga Sidorejo, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul menggelar Festival Budaya Telaga Semarseto #2, Minggu (6/5/2018). Selain untuk mengangkat potensi seni dan budaya masyarakat, festival tersebut digelar untuk memasyarakatkan car free day (CFD) di kawasan tersebut.

Pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Semarseto Rr Wiwik Larasati menjelaskan, festival budaya ini digelar untuk mengenalkan potensi budaya, kesenian dan ekonomi masyarakat. Beragam kegiatan digelar selama festival berlangsung. Mulai lomba membuat tumpeng hingga parade bregodo.

"Ada banyak pasukan Bregodo yang ikut. Seperti Bregodo Sonopakis Kadipiro. Masyarakat Sidorejo sendiri menampilkan dua bregodo, Bregodo Semarseto dan Bregodo Kyai Bonthit," katanya kepada Harianjogja.com, Minggu.

Festival Budaya tersebut juga bagian dari pemberdayaan potensi budaya di daerah tersebut. Saat ini terdapat empat kelompok seni yang menjadi bagian Pokdarwis Semarseto. Selain Sanggar Seni Tari Sekar Wirama dan Kelompok Seni Karawitan Tansa Laras, ada juga Kesenian Campursari Rempongsari serta Kelompok Seni Jatilan Udho Manunggal.

"Semua kelompok ini sudah mengantongi izin usaha. Ini bagian dari pemberdayaan masyarakat. Kelompok-kelompok ini sudah tampil kemana-mana," katanya.

Festival ini berbarengan dengan pembukaan Pasar Srawung atau CFD. Ada sekitar 124 UMKM yang ikut meramaikan Pasar Srawung ini. Pasar Srawung ini digelar setiap Minggu sepanjang 700 meter. Pokdarwis juga menyediakan ruang berekspresi bagi warga yang ingin menampilkan bakatnya.

"Untuk ruang ekspresi seni kami sediakan di Sekreatriat Pokdarwis," katanya.

Menurutnya, Pasar Srawung atau CFD tersebut bebas dari unsur dan kegiatan politik. Hal itu menjadi komitmen Pokdarwis. Baginya, Pasar Srawung hanya disatukan dengan sajian seni dan budaya.

"Selama gelaran ini berlangsung sangat positif dan tidak ada kegiatan politik. Ini mendapat respons baik dari masyarakat," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW) Dinas Pariwisata DIY, Wardoyo mengatakan festival budaya tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah untuk mengembangkan dan memajukan seni budaya. Sebab kedua unsur ini sampai saat ini sebagai penopang kepariwisataan DIY.

Antara kebudayaan dan kepariwisataan, katanya selalu bersinergi untuk kemajuan DIY baik di sektor budaya, maupun pariwisata. "Festival itu juga untuk memajukan kepariwisataan DIY. Kami fasilitasi masyarakat dengan ruang kreatifitas agar bisa mengembangkan potensi desa wisata maupun budaya," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online