Jadi Relawan, Yoga Nugroho Utomo Tetap Ingin Punya Waktu untuk Keluarga

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Senin, 04 Juni 2018 17:17 WIB
Jadi Relawan, Yoga Nugroho Utomo Tetap Ingin Punya Waktu untuk Keluarga

Yoga Nugroho Utomo./Ist-Dok Pribadi

Harianjogja.com, JOGJA-Yoga Nugroho Utomo saat ini dipercaya menjadi Ketua Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS) sebuah wadah yang menjadi media perekat puluhan komunitas sukarelawan kebencanaan di Sleman.

Pria kelahiran Cilacap, 7 April 1977 ini sudah belasan tahun terjun di dunia rescue. Bergabung dalam organisasi Merapi Lowo Rescue Indonesia sejak 2005, Yoga memiliki kompetensi atau kecakapan di bidang SAR dan Evakuasi, MFR, hingga Pengelolaan Posko.

Selama menjadi Ketua FKKRS, Yoga dinilai mampu menyatukan persepsi komunitas-komunitas sukarelawan di Sleman. Sejak terpilih 2015 lalu hingga kini, FKKRS mampu membangun komunikasi dan koordinasi antarkomunitas sukarelawan penanggulangan bencana (PB). FKKRS juga mampu membangun sinergi antarkomunitas sukarelawan PB.

Adanya pengakuan dari SKPD lain di Pemkab Sleman turut mensolidkan keberadaan FKKRS. Pemkab Sleman dan SKPD-nya semakin mengapresiasi kinerja sukarelawan PB. Apresiasi juga datang dari BNPB atas kinerja, koordinasi, dan soliditas relawan PB Sleman. Apa yang dihasilkan tersebut tidak mudah dicapai.

Yoga punya strategi sendiri untuk menyatukan berbagai komunitas sukarelawan. Menurutnya, komunitas sukarelawan PB Sleman tetap memiliki otoritas atas rumahtangganya. Tidak ada kooptasi anggota komunitas. Mereka juga diberi penguatan keorganisasian komunitas sukarelawan.

"Keputusan peran serta komunitas dalam kegiatan berada di tangan masing masing komunitas," katanya kepada Harianjogja.com, Minggu (3/6/2018).

Selain itu, masih ada relawan yang kecakapannya belum memadai, dan tidak sebanding dengan kemauan untuk berperanserta di lapangan. Kendala lainnya, tingkat disiplin sukarelawan yang masih kurang. APD tidak melekat, ketaatan komando, egosentris antarpersonel beda komunitas. Ke depan ini harus diselesaikan.

"Untuk mengurangi kekurangan dan kendala tersebut, FKKRS tidak henti-hentinya memberi contoh, komunikasi, edukasi, pendekatan, membangun sistem koordinasi terpusat, namun tidak menerapkan komando langsung," katanya.

Selama menjadi sukarelawan PB, dilema dengan keluarga bukan tidak banyak terjadi. Pernah sekali waktu anak lanang Yoga meminta agar diajak main jalan-jalan keluar. Saat itu karena masa libur panjang tapi karena ada tugas, Yoga akhirnya tidak mengikuti kemauan anaknya saat itu. Tetapi diberikan ruang lain saat ada waktu senggang.

"Waktu saya lebih banyak untuk kerja dan kegiatan FKKRS. Tapi anak dan istri enggak pernah protes dengan kegiatan di kerelawanan. Hingga di masa erupsi Merapi inipun, mereka paham," katanya.

Saat Erupsi tanggal 21 Mei yang lalu, Yoga full berada di Posko Utama BPBD Sleman di Pakem. Ia baru pulang pada Selasa (29/5) pagi. Dukungan keluarga, para relawan dan rekan-rekan Pusdalops PB Sleman serta TRC BPBD Sleman juga menguatkannya. "Alhamdulillah keluarga tidak keberatan. Kadang saya pengin luangkan waktu untuk pergi dengan anak, di luar kegiatan kesukarelawanan," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online