SD Negeri 1 Bantul Hadirkan Layanan Pendidikan Terpadu
SD Negeri 1 Bantul terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas melalui penyelenggaraan layanan pendidikan terpadu
Nelayan Mina Bahari Depok 45 menepikan perahu seusai menangkap ikan di tengah Pantai Depok, Minggu (1/4/2018). /Harian Jogja-Salsabila Annisa Azmi
Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul, mengklaim hampir semua nelayan di wilayahnya terdaftar dalam asuransi kecelakaan. Tahun ini, dinas bahkan sudah menyiapkan 250 kuota nelayan mendapat bantuan premi asuransi nelayan (BPAN).
"Tahun lalu ada 136 nelayan dapat BPAN, 2017 ada 102 nelayan. Tahun ini sudah disiapkan 250 nelayan," kata Kepala Seksi Pengendalian Perikanan dan Prasarana Perikanan Tangkap, Diperpautkan Bantul, Susilartati, Selasa (26/6/2018).
Sementara jumlah nelayan yang tercatat sampai saat ini dan dibuktikan dengan kartu nelayan, kata Susilartati, ada 575 orang. Dia menyatakan hampir semua nelayan mendapat bantuan premi asuransi kecelakaan.
Bantuan premi asuransi nelayan tersebut berasal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Diperpautkan hanya memfasilitasi dan menyeleksi nelayan yang memenuhi syarat mendapat BPAN. Namun bantuan premi asuransi itu hanya berlaku selama setahun dengan nilai premi per nelayan Rp175.000.
"Selanjutnya nelayan harus membayar premi secara mandiri," ujar Susilartati. Menurut dia, bantuan premi asuransi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut bekerja sama dengan salah satu perusahaan asuransi, namun bukan BPJS Ketenagakerjaan seperti yang diberitakan sebelumnya.
Dalam bantuan premi asuransi yang berlaku selama setahun itu, nelayan mendapat tanggungan Rp200 juta jika meninggal dunia saat kecelakaan kerja di laut. Kematian selain kecelakaan kerja mendapat tanggungan Rp150 juta, cacat tetap Rp100 juta, dan biaya pengobatan Rp20 juta.
Sementara untuk premi asuransi mandiri setelah satu tahun, Susilartati tidak mengetahui detailnya, karena ada perhitungan tersendiri dari perusahaan asuransi. Pihaknya akan mendorong semua nelayan tetap ikut asuransi secara mandiri setelah BPAN selesai, karena pekerjaan nelayan cukup berisiko.
"Sejak 2016 setahu kami belum pernah ada nelayan yang mengklaim asuransi. Kami memang genjar menyelenggarakan workshop keselamatan kerja bagi nelayan," ujar dia.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Bantul, Suyanto menjelaskan jumlah nelayan di Bantul sekitar 826 orang, dan jumlah kapal sekitar 400 unit. Setiap melaut satu kapal minimal berisi dua nelayan. Dari jumlah nelayan tersebut, dikatakan Suyanto, yang sudah terdaftar asuransi kecelakaan, baru sekitar 400 nelayan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SD Negeri 1 Bantul terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas melalui penyelenggaraan layanan pendidikan terpadu
Sertifikat tanah elektronik menghubungkan data pemegang hak dengan NIK dan bidang tanah dengan nomor identifikasi elektronik.
BSU Rp600.000 Oktober 2026 belum diumumkan pemerintah. Simak syarat BSU tahun lalu dan cara cek status melalui situs resmi Kemnaker.
Rumah duka Guruh Soekarnoputra di Jakarta dipadati pelayat dan karangan bunga setelah maestro seni itu wafat pada usia 73 tahun.
Sebanyak 193 karya dari 131 seniman difabel dipamerkan dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026 di Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
Kementerian PU menangani kekeringan yang mengancam 141.440 ha sawah melalui pemompaan air dan perbaikan irigasi.