Dies Natalis UNSA ke-28, Astrid Soroti Makna Estafet Antargenerasi
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Suasana di Terminal Giwangan, Minggu (10/6/2018). /Harian Jogja- Meigitaria Sanita
Harianjogja.com, JOGJA—Solusi sengketa Terminal Giwangan yang melibatkan Pemkot Jogja dan PT Perwita Karya menemui titik terang. Pasalnya tahun ini, melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan Kota Jogja, Pemkot mengusulkan dana sebesar Rp56 miliar untuk membayar hutang atas sengketa tersebut.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jogja Kadri Renggono mengatakan rencana tersebut sejauh ini masih diusulkan dan terus dibahas bersama DPRD Jogja. "Yang jelas kami usulkan dulu. Mekanisme nanti seperti apa masih akan dibahas bersama Dewan," ucap dia, Minggu (1/7/2018).
Sekadar diketahui, sengketa pengelolaan Terminal Giwangan terjadi sejak 10 Maret 2010 lalu saat PT Perwita Karya mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jogja. Sengketa muncul karena ada perselisihan besaran biaya pembangunan terminal saat pengelolaan masih ditangani Pemkot. Di satu sisi Pemkot menilai kebutuhan biaya hanya Rp41 miliar, sedangkan PT Perwita Karya kekeh terjadi selisih dana hingga Rp56 miliar.
Kadri mengaku Pemkot beriktikad baik membayar kewajiban dengan mengalokasikan dana cadangan. Menurut Kadri, sumber dana untuk pembayaran hutang tersebut sebagian diambilkan dari sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa) 2017 yang besarannya mencapai sekitar Rp242 miliar. “Dengan begitu, Pemkot tidak akan menggeser kegiatan yang sudah dianggarkan dalam APBD 2018,” ucap dia.
Dana tersebut disiapkan sambil lalu menunggu proses hukum yang berjalan. Pada akhirnya, upaya hukum terakhir berupa peninjauan kembali (PK) di Mahkamah Agung (MA) kandas. MA memenangkan guguatan PT Perwita Karya.
"Karena sudah tidak ada upaya hukum lagi [inkrah] maka kami harus menjalankan keputusan MA. Inilah dasar Pemkot mengajukan usulan Rp56 miliar sesuai putusan MA," kata Kadri.
Lebih lanjut, sengketa Terminal Giwangan juga selalu mendapat catatan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Pemkot bahkan disarankan oleh BPK RI untuk membayarkan kewajiban sesuai putusan MA. Pasalnya jika tidak segera diakhiri sengketa yang terjadi selalu menjadi persoalan dalam neraca keuangan.
Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Giwangan Bekti Zunanta berharap masalah tersebut segera diselesaikan. Masalah sengketa yang selama ini belum selesai antara Pemkot dengan Perwita juga berdampak pada anggaran pemeliharaan yang dialokasikan oleh Kemenhub. "Ya karena masih ada masalah itu sehingga anggaran pemeliharaan Kemenhub belum bisa maksimal," katanya.
Dia mengakui Terminal Giwangan masih memerlukan banyak pemenuhan sarana dan prasarana, terutama sarana dan prasarana bagi difabel. Selain itu dia juga menilai fasilitas ruang tunggu yang dinilai belum memadai.
"Belum ada AC [pendingin udara]. Jika permasalahan yang ada terselesaikan kami bisa mengelola terminal secara maksimal termasuk peningkatan fasilitas terminal agar bisa memenuhi harapan masyarakat," ujar Bekti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Komjen Wahyu Hadiningrat resmi menjadi Wakapolri mendampingi Jenderal Suyudi Ario Seto. Simak profil dan rekam jejaknya.
Link live streaming Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026 tersedia di Vidio dan YouTube. Simak jadwal dan cara menontonnya.
Satoria Hotel Yogyakarta merayakan ulang tahun ke-9 dengan tema “Together We 9row” melalui berbagai kegiatan kesehatan, sosial, lingkungan, dan pengembangan dir
Komite MAN 2 Bantul menjelaskan soal Rp4,2 juta yang ramai di media sosial. Nominal disebut bukan tarif wajib bagi wali murid.
Capaian CKG Kulonprogo baru 119.172 dari 459.782 sasaran. Dinkes memperluas pemeriksaan hingga Kantor Pemkab Kulonprogo.