Ini yang Bikin SMP di Gunungkidul Ketar Ketir

Jalu Rahman Dewantara
Jalu Rahman Dewantara Senin, 02 Juli 2018 18:50 WIB
Ini yang Bikin SMP di Gunungkidul Ketar Ketir

Ilustrasi PPDB./JIBI

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Jumlah lulusan siswa sekolah dasar (SD) di Gunungkidul tahun ini lebih sedikit dibanding kuota penerimaan sekolah tingkat menengah pertama (SMP) dalam PPDB 2018. Sejumlah sekolah mengaku ketar ketir kuota siswa tidak terpenuhi.

Menurut data Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul jumlah siswa yang lulus dari tingkat SD berjumlah 9.222, sementara jumlah kuota tingkat SMP/MTs sebanyak 11.700 siswa.

Kepala SMP N 3 Wonosari, Mulyadi mengaku khawatir tahun ini kuota siswa di sekolahnya tidak terpenuhi. Kekhawatiran itu timbul lantaran melihat selisih antara jumlah lulusan dengan calon siswa yang akan diterima di SMP.

"Meski di tahun-tahun sebelumnya sekolah kami selalu terpenuhi [kuota siswa] bahkan sampai membuang antara lima hingga 20 siswa tapi saya juga khawatir untuk tahun ini," ucapnya kepada Harianjogja.com, Senin(2/7/2018).

Adapun kuota siswa yang dibuka SMP N 3 Wonosari sebanyak 192 siswa. Jumlah sesuai SK penetapan ihwal daya tampung sekolah tersebut.

Kepala SMP Kanisius Wonosari, Yohannes Nugraha juga mengungkapkan hal serupa. Meski tiap tahun kuota siswa dalam PPDB di sekolahnya tidak optimal, tapi dengan jumlah lulusan SD tahun ini lebih sedikit hal itu menjadi kendala besar.

"PPDB memang menjadi PR tahunan yg selalu menghawatirkan bagi kami, meskipun kami sekolah yang terbuka untuk umum tapi peminatnya hanya terbatas," ucapnya. Adapun Kuota siswa di SMP Kanisius Wonosari dalam PPDB sebanyak 32 siswa.

Yohannes menambahkan jumlah yang semakin kecil sejalan dengam peluang yang juga makin kecil. Atas hal itu pihaknya kini sedang mempelajari peluang dengan adanya kebijakan baru PPDB yakni sistem zonasi. "Hanya untuk memenuhi kuota saja," katanya.

Menanggapi hal itu Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul, Bahron Rosyid mengatakan semua SMP diharapkan lebih meningkatkan kualitasnya. Hal ini untuk menambah minat peserta didik masuk ke sekolah tersebut.

Bahron memastikan meski ada penurunan jumlah lulusan tidak akan membunuh keberadaan SMP baik swasta maupun negeri. Selain itu dia mengharapkan kualitas pelayanan lebih diutamakan dibanding kuantitas peserta didik. "Kami juga telah imbau kepada seluruh sekolah untuk tidak menambah kuota PPDB," ucapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online