ILustrasi Kegiatan PKK/JIBI
Harianjogja.com, KULONPROGO—Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) DIY menggelar Lomba Desa Mandiri di Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Rabu (25/7/2018). Lomba dilaksanakan sebagai salah satu langkah pengecekan kemajuan Kelompok Wanita Tani (KWT) yang telah memperoleh dana penunjang.
Ketua III Tim Penggerak PKK DIY, Asiantini, menyatakan kegiatan yang digelar merupakan upaya pengecekan perkembangan tiap kelompok yang mendapatkan bantuan dana sebagai stimulan. "Beberapa tahun lalu kami memberikan dana dan kami menggelar lomba ini salah satunya untuk melihat siapa yang mampu mengembangkan potensi yang dimiliki dengan dana stimulan yang telah kami berikan," katanya, Rabu.
Menurut Asiantini, pemilihan pemenang dalam lomba harus lolos beberapa kriteria, yakni pengembangan modal usaha, jumlah varietas tanaman dan bahan makanan, sekaligus jumlah warga miskin dari tahun ke tahun. "Dana awal berapa. sekarang jadi apa, dan berkembang tidak, kalau tidak berkembang berarti rugi," katanya.
Ketua KWT Tani Lestari Gunungrego, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Tri Suratminah, mengaku tidak terlalu mengincar juara dalam perlombaan ini. Dirinya mengaku seluruh anggotanya hanya ingin mengembangkan potensi yang ada agar kesejahteraan masing-masing anggotanya terangkat. "Kami sebenarnya berada di Hargorejo, tetapi pada 2013 diminta per dusun, dan terus berkembang dan hidup hingga saat ini," katanya.
Menurutnya, pengembangan KWT saat ini terkendala pada pengolahan hasil tanaman. Anggotanya yang mayoritas sebagai petani telah memiliki cukup banyak tanaman, adapun sampai saat ini pihaknya masih kebingungan untuk mengolah makanan tersebut menjadi jenis makanan. "Tanaman obat keluarga ada, sayuran ada, cuma kami memerlukan pelatihan untuk pengolahan," katanya.
Kendala lainnya, menurut Tri Suratminah yakni kondisi alam. Menurutnya, Desa Hargorejo saat ini menjadi wilayah terdampak kekeringan sehingga menyulitkan petani. Tanaman yang ada harus disesuaikan dengan musim tanam dan musim hujan. "Kami kesulitan mendapatkan air karena desa kami berada di kawasan pegunungan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tags: