Perkebunan Cengkih di Lereng Merapi Diambang Kepunahan

Fahmi Ahmad Burhan
Fahmi Ahmad Burhan Minggu, 02 September 2018 20:15 WIB
Perkebunan Cengkih di Lereng Merapi Diambang Kepunahan

Ilustrasi kebun cengkih

Harianjogja.com, SLEMAN—Luas lahan dan produksi cengkih di Sleman terus menyusut sejak erupsi Merapi pada 2010. Saat ini petani memilih beralih menanam tanaman hortikultura dibanding menanam tanaman keras seperti cengkih.

Petani cengkih di Dusun Banjarsari, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Suminten, mengatakan lahan cengkih yang ia kelola sudah mulai susut sejak erupsi Merapi pada 2010. "Lahan terus menyusut. Dulu saya menanam di tanah kas desa, dan ketika Merapi meletus pada 2010, lahan dipakai untuk hunian sementara," katanya, Sabtu (1/9/2018).

Suminten mengatakan saat ini dirinya hanya memiliki tiga batang pohon cengkih. Menurutnya, menanam pohon cengkih sangat menguntungkan. Meski demikian proses penanamannya cukup lama, sehingga membuat petani memilih beralih ke sektor tanaman hortikultura. "Petani lebih memilih menanam tanaman yang lebih cepat memberikan keuntungan seperti pisang, kelapa, dan tanaman buah," katanya.

Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Edi Sri Hartanto, mengatakan saat ini komoditas tanaman cengkih di Sleman hampir punah. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sleman, luas lahan cengkih di Sleman pada 2016 hanya 24,8 hektare dengan total produksi sebanyak 99,9 kuintal.

"Banyak lahan tanaman cengkih yang dialihkan ke usaha yang lain, seperti di daerah Turi. Di sana tanaman cengkih terdesak tanaman buah salak," kata Edi, Sabtu. Edi mengatakan di Sleman beberapa wilayah yang masih memiliki banyak tanaman cengkih di antaranya Cangkringan, Turi dan Pakem. Berdasarkan data BPS Sleman, sebanyak 70% lahan cengkih di Sleman terdapat di Cangkringan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online