Top 7 News Harianjogja.com Rabu 13 September 2023
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Ilustrasi hutan hujan tropis Sumatra/Ist-basecamppetualang.blogspot.com
Harianjogja.com, SLEMAN--Kondisi hutan adat yang terkendali akan mempengaruhi kondisi lingkungan yang lebih baik. Hal ini sudah terjadi di hutan adat Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan di mana masyarakatnya memberlakukan beberapa pantangan demi menjaga pelestarian alam.
Kepala Subdirektorat Pengakuan Hutan Adat dan Perlindungan Kearifan Lokal, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Yuli Prasetyo Nugroho saat mengisi kuliah umum Climatalk (Climate Change Talk) bertajuk Hutan Adat dalam Mitigasi Perubahan Iklim di Fisipol UGM mengatakan hutan adat Kajang memiliki luas sekitar 313 hektare. Saat hutan adat tidak dipelihara dengan baik, dampaknya akan sangat terasa. Seperti kebersihan udara yang terganggu.
Masyarakat di hutan adat itu menerapkan beberapa larangan yang dilakukan secara turun-temurun. "Yang enggak boleh dilakukan di sana [hutan adat Kajang] adalah menebang kayu, menjala udang, dan mengambil madu," kata Yuli, Kamis (22/11/2018).
Jika penebangan kayu dilakukan maka akan merusak ekosistem di hutan itu. Penggundulan hutan yang terjadi juga menimbulkan karbon yang cukup tinggi. Sementara larangan menjala udang dilatarbelakangi karena udang dijadikan penanda kualitas air.
"Udang adalah penanda kualitas airnya baik. Kalau diambil, mereka enggak tahu bagaimana kualitasnya. Udang seperti menjadi pemantau lingkungan dan pemantau kualitas air," lanjut dia.
Sementara alasan masyarakat adat Kajang tidak mengambil madu adalah keyakinan jika madu diambil maka akan mengganggu lebah. Lebah sendiri adalah binatang yang membantu penyerbukan secara alami.
Yuli mengatakan masyarakat Kajang seakan-akan memantangkan hal-hal di hutan. Beberapa orang menilainya sebagai mitos tetapi hal ini dapat dipikir secara rasional bahwa pantangan yang diberlakukan itu memberikan dampak yang baik pada kelestarian lingkungan dan juga perubahan iklim.
"Perubahan iklim sudah sangat kita rasakan. Dan hutan adat sangat membantu. Kita harus belajar pada masyarakat adat karena mereka belajar dari alam," katanya dalam kuliah umum yang diselenggarakan Institute of International Studies (IIS) Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fisipol UGM tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Perimenopause tingkatkan risiko penyakit jantung pada perempuan. Simak hasil studi terbaru dan cara menjaga kesehatan jantung.
Pisang bertandan ganda di Gunungkidul menarik perhatian. Pemkab siap kembangkan jadi varietas unggulan.
Penyelenggaraan 35th International Cycling History Conference (ICHC) menghasilkan Piagam Klaten.
Eks staf RS di Boyolali gelapkan Rp628 juta, dipakai judol dan pinjol. Polisi ungkap modus manipulasi laporan keuangan.
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi DIY menyosialisasikan dua kebijakan premium baru, yakni Golden Visa dan Global Citizen Indonesia.