Ramadan dan Lebaran, Telkomsel Prediksikan Kenaikan Traffic 15%
Telkomsel mematangkan persiapan menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri (Rafi) 2024.
Para pemuda dari berbagai kalangan mengikuti Sarasehan Kebudayaan Menimbang antara Kearifan Lokal dan Kemusyrikan di Wisma Kagama, Jumat (7/12/2018)./Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati
Harianjogja.com, SLEMAN- Islam masuk ke Indonesia melalui media budaya sehingga keduanya tidak bisa dipisahkan. Islam harus dipahami secara moderat agar tercipta keharmonisan antara agama dan local wisdom.
Hal tersebut disampaikan Lajnah Bahtsul Masa’il Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (LBM PWNU) DIY Gus Irawan Masduki saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Kebudayaan Menimbang antara Kearifan Lokal dan Kemusyrikan di Wisma Kagama, Jumat (7/12/2018). Kegiatan yang digagas oleh Aliansi Mahasiswa Jogja ini juga turut menghadirkan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DIY Abdul Muhaimin dan pakar sosiologi Fathorrahman.
Irawan mengatakan banyak kegiatan berbasis budaya yang dibubarkan sekelompok orang karena dianggap musyrik. Seperti pembubaran sedekah laut di Bantul Oktober lalu. Kemudian ada spanduk bertuliskan “Wayangan Bukan Islam” dan juga tradisi sadranan yang dianggap musyrik.
“Padahal arti sadran itu Innalilahi wa innailaihi raji’un, agar orang diingatkan bahwa kita akan kembali kepadaNya,” katanya, Jumat.
Ia mengakui Jawa menjadi tempat tumbuhnya simbol-simbol budaya lokal dan Islam sangat menghormatinya. Islam masuk ke Indonesia juga menggunakan instrumen dakwah yaitu melalui wayang sehingga Islam dan budaya tidak bisa dipisahkan.
Menurut Irawan, seorang penganut Islam harus belajar agama secara historis dan jangan belajar secara instan agar tidak menjadi penganut agama yang radikal. “Dalam rangka memahami Islam harus menjadi Islam yang moderat agar antara agama dan local wisdom bisa harmonis,” katanya.
Muhaimin juga berpendapat Islam tidak pernah membongkar local wisdom tetapi selalu melakukan pendekatan konstruktif agar tidak terjadi benturan sosial di masyarakat.
Musyrik selalu direproduksi dan diaktualisasikan oleh kalangan tertentu. Antara lain karena menipisnya ruang ekspresi, menguatnya identitas populisme kanan, meredupnya hasanah tradisi, dan adanya disrupsi paham keagamaan. “Seolah-olah agama hanya selesai pada pengajian. Harusnya ada ruang ekspresi yang dilestarikan misalnya kebudayaan,” tutur Fathorrahman.
Ketua panitia sarasehan Abdurrachman mengatakan sebagai generasi muda sepatutnya ikut menghormati kebudayaan yang beragam. Jangan sampai perbedaan menjadi pemicu bentrok antar-masyarakat. “Walaupun terjadi perbedaan tradisi, jangan sampai mengacu radikalisme atau saling mengolok-olok,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Telkomsel mematangkan persiapan menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri (Rafi) 2024.
Budi Waljiman menyerahkan bantuan gamelan Suara Madhura untuk SMA Bosa Jogja guna memperkuat pelestarian budaya Jawa di sekolah.
Prabowo tegas minta BPKP tetap periksa pejabat yang diduga menyimpang tanpa melihat kedekatan dengan dirinya.
Polisi selidiki keributan di Tegalrejo Jogja yang viral di media sosial. Diduga terjadi penganiayaan usai cekcok di jalan.
Polri menegaskan kesiapan operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang akan diresmikan secara serentak oleh Presiden Prabowo Subianto.
Forum Anak Daerah (FAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses menggelar hari pertama dari rangkaian kegiatan "Temu Hati #17" di Ruang Nyi Ageng Serang