DPAD DIY Terus Ajak Masyarakat Luas Nonton Diorama
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY terus memperkenalkan Diorama Arsip Jogja kepada masyarakat luas.
Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Tony Prasetiantono (tengah) dan Dosen Program Studi Ekonomi USD Laurentius Bambang Harnoto (kanan) menjadi pemateri dalam Seminar Dosen di Kampus Paingan Universitas Sanata Dharma (USD), Selasa (11/12/2018)./Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati
Harianjogja.com, SLEMAN- Aspek pendidikan Indonesia perlu ditingkatkan dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0. Pendidikan yang berkualitas bisa meningkatkan daya saing.
Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Tony Prasetiantono mengatakan peningkatan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0. Pendidikan dapat menjadi modal dalam meningkatkan daya saing.
Tony mengatakan di ASEAN, jumlah mahasiswa Indonesia yang mengenyam pendidikan di luar negeri masih rendah dibandingkan Vietnam. "Dulu [tertinggi di ASEAN adalah] Malaysia tetapi sekarang Vietnam yaitu sebanyak 70.000 orang. Padahal Vietnam baru saja selesai perang saudara tetapi sekarang pendidikannya maju. Maka Indonesia harus hati-hati," kata Tony dalam Seminar Dosen "Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan di Era Revolusi 4.0" dalam rangka Dies Natalis ke-63 Universitas Sanata Dharma (USD) di Kampus Paingan, Sleman, Selasa (11/12/2018).
Indonesia memiliki jumlah penduduk sampai 265 juta jiwa tetapi hanya mengirimkan anak mudanya untuk berkuliah di luar negeri sebanyak 46.000. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan China yang mencapai 600.000 orang.
Menurut Tony, setiap negara memiliki cara yang berbeda-beda dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Ia mencontohkan, Inggris memutuskan keluar dari keanggotaan Uni Eropa dan tidak lagi menerima imigran dari Eropa timur.
Inggris berupaya untuk tidak mendatangkan imigran. Sebaliknya, Jerman mengizinkan migrasi masuk karena menyadari jika jumlah penduduk muda sedikit maka ekonomi Jerman akan menurun. "Makanya Jerman ekonominya termasuk baik di Eropa," katanya.
Lebih lanjut Tony mengatakan revolusi industri 4.0 akan memberikan manfaat yaitu efisiensi dan harga-harga menjadi lebih murah. Hanya saja keberadaannya juga memberikan dampak makro yang sangat melekat dalam kehidupan masyarakat.
"Dampak makronya seperti pengurangan tenaga kerja yang akan terasa," katanya. Kondisi itu terjadi karena revolusi industri 4.0 banyak memanfaatkan teknologi.
Kemunculan inovasi juga akan mewarnai era revolusi industri 4.0. Namun perlu diwaspadai bahwa inovasi yang muncul justru dapat mendisrupsi atau merusak tatanan yang sudah ada sebelumnya.
Sementara Dosen Program Studi Ekonomi USD Laurentius Bambang Harnoto yang menjadi pembicara kedua dalam seminar tersebut mengatakan revolusi industri memberikan dampak meningkatnya angka ketimpangan. "Revolusi industri akan membuat masyarakat semakin timpang karena akses untuk mencapai revolusi industri sangat luas sehingga kelompok rentan akan semakin sulit," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY terus memperkenalkan Diorama Arsip Jogja kepada masyarakat luas.
Menkeu Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil bahas strategi peningkatan PNBP, swasembada energi, dan listrik desa. Ini target dan datanya.
Merokok meningkatkan risiko kanker mulut secara signifikan. Ketahui penyebab, dampak, dan cara menurunkannya menurut dokter.
BGN akan menangguhkan SPPG tanpa Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi. Kebijakan ini demi menjaga kualitas Program Makan Bergizi Gratis.
Serangan Israel ke Lebanon kembali meningkat. Puluhan wilayah dihantam, korban tewas bertambah. Simak perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.
Kesbangpol DIY menyelenggarakan pendidikan politik perempuan di Wates, Kabupaten Kulonprogo, Rabu (13/5/2026). Pendidikan ini ditujukan untuk mendorong kaum Haw