Ilustrasi leptospirosis,/JIBI
Harianjogja.com, SLEMAN—Kasus leptospirosis masih menjadi ancaman kesehatan bagi masyarakat di Sleman. Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, selama 2018 terjadi 32 kasus leptospirosis, dua korban di antaranya meninggal dunia.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Sleman, Dulzaini, mengatakan pada 2018 dua orang warga Sleman meninggal dunia karena leptospirosis. "Penyakit ini disebabkan karena lingkungan yang tidak bersih, banyak tikus," katanya saat ditemui Harian Jogja, Jumat (4/1/2019).
Ia mengatakan air kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira dapat menular ke manusia. Bakteri dari kencing tikus inilah yang banyak menyerang petani. Dari segi usia, leptospirosis menyerang pada rentang usia 15 tahun ke atas.
"Kami berupaya mencegah penyakit ini adanya program perilaku hidup bersih dan sehat [PHBS]. Petugas kesehatan di tiap puskesmas secara rutin memberikan laporan terkait dengan kasus leptospirosis di masing-masing wilayah," ujar Dulzaini.
Berdasarkan data Dinkes Sleman, tiap tahun jumlah warga Sleman yang terkena leptospirosis naik turun. Pada 2016 hanya ada dua kasus leptospirosis yang terjadi dan tidak sampai menimbulkan korban meninggal dunia. Namun jumlah tersebut meningkat drastis di 2017 menjadi 48 kasus leptospirosis dengan 10 penderita di antaranya meninggal dunia. Di 2018 jumlah tersebut menurun menjadi 32 kasus dan dua orang meninggal dunia.
Menurut Dulzaini, selain faktor kebersihan, kasus leptospirosis juga dipicu faktor cuaca yang ekstrem seperti yang terjadi pada 2017. Dia menyatakan masyarakat khususnya petani perlu diberikan pemahanan tentang antisipasi penyakit leptospirosis. Orang yang terkena penyakit leptospirosis akan mengalami gejala mual, muntah, nyeri betis, bahkan badan menguning.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Heru Saptono, mengatakan jajarannya bekerja sama dengan Dinkes Sleman selalu memberikan pemahamanan kepada petani untuk menjaga kebersihannya agar terhindar dari bakteri yang berasal dari kencing tikus tersebut.
"Kami selalu mengimbau kepada para petani untuk menjaga kebersihan agar terhindar dari virus yang umumnya berasal dari kencing tikus. Biasanya petani banyak menumpuk jerami di pematang sawah, dan hal itulah yang menjadi tempat kencing tikus," ujar Heru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.