Ilustrasi leptospirosis,/JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Leptospirosis masih menjadi momok bagi warga di DIY. Bahkan selama dua pekan di awal 2019, satu orang warga di Kabupaten Gunungkidul meninggal dunia dan dua warga lainnya harus dirawat intensif karena penyakit ini.
Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, pada 2017 mencatat 64 orang terkena penyakit leptospirosis, beberapa di antaranya meninggal dunia. Jumlah kasus turun pada 2018 yakni menjadi 16 kasus. Namun pada Januari 2019, terjadi tiga kasus leptospirosis, dengan satu korban meninggal dunia dan dua korban lain dirawat intensif di rumah sakit. Korban meninggal tercatat sebagai warga Kecamatan Ponjong dan dua lainnya di Kecamatan Gedangsari.
Fungsional Entomolog Kesehatan Bidang Penyakit Tidak Menular (PTM) Dinkes Gunungkidul, Eko Mujiarto, mengatakan penyakit leptospirosi menular tidak hanya melalui kencing tikus, tetapi bisa dari sapi maupun kucing yang positif terjangkit virusbakteri leptospira. "Masyarakat perlu tahu leptospirosis bisa menular tidak hanya dari air kencing tikus," kata dia kepada wartawan, Kamis (17/1/2019)
Menurut Eko, di Gunungkidul daerah yang rawan terkena leptospirosis berada di wilayah utara yaitu Kecamatan Gedangsari, Ngawen, Patuk, Nglipar, dan Semin. Lima kecamatan ini rawan leptospirosis lantaran kondisi geografis wilayahnya yang memiliki area pertanian lebih luas dibandingkan dengan kecamatan lainnya.
Dijelaskan Eko, memasuki puncak musim penghujan khususnya pada Januari hingga Maret masyarakat harus mewaspadai leptospirosis. Menurutnya, tingginya intensitas hujan yang turun menjadi pemicu penyebaran leptospirosis. Terlebih, di bulan-bulan tersebut petani sibuk di sawah dan ladang karena mendekati masa panen.
Sekretaris Dinkes Gunungkidul, Priyanta Madya, mengungkapkan untuk mengantisipasi risiko terkena leptospirosis masyarakat disarankan ke ladang setelah Matahari terbit. Biasanya bakteri yang terkandung dalam kencing tikus akan dengan sendirinya mati saat terpapar sinar Matahari. "Kami mengimbau agar petani di Gunungkidul pergi ke sawah dan ladang setelah Matahari terbit," ucap Priyanta.
Di sisi lain, masyarakat juga harus aktif dalam melakukan penanganan, dimulai dari memperhatikan luka terbuka yang dapat menjadi sarana penularan. “Sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter jika merasakan panas yang tidak kunjung turun dalam waktu beberapa hari,” kata Priyanta.
Kasus leptospirosis yang merenggut korban jiwa terjadi di beberapa kabupaten di DIY. Di Sleman, selama 2018 terjadi 32 kasus leptospirosis, dua korban di antaranya meninggal dunia.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Sleman, Dulzaini, mengatakan pada 2018 dua orang warga Sleman meninggal dunia karena leptospirosis. "Penyakit ini disebabkan karena lingkungan yang tidak bersih, banyak tikus," katanya saat ditemui Harian Jogja, belum lama ini.
Ia mengatakan jajarannya berupaya mencegah penyakit ini melalui program perilaku hidup bersih dan sehat [PHBS]. “Petugas kesehatan di tiap puskesmas secara rutin memberikan laporan terkait dengan kasus leptospirosis di masing-masing wilayah," ujar Dulzaini.
Di Kabupaten Kulonprogo, sepanjang 2018 dari 26 penderita, lima di antaranya meninggal dunia akibat penyakit leptospirosis. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kulonprogo, Baning Rahayujati, menyebut jumlah kematian akibat leptospirosis pada 2018 meningkat dibanding 2017. "Meski secara jumlah kasus sebenarnya menurun [perbandingan data penderita leptospirosis di Kulonprogo 2017 dengan 2018], tetapi kematian akibat penyakit ini justru meningkat," kata Baning kepada wartawan, belum lama ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.