Abrasi Meluas, Nelayan Pantai Baron Kesulitan Parkir Perahu

Puluhan perahu nelayan yang berjajar di pinggir Pantai Baron, Rabu (16/1/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
17 Januari 2019 15:15 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Abrasi terus menggerus kawasan Pantai Baron. Sejumlah nelayan pun semakin khawatir lantaran area parkir perahu semakin berkurang. Saat ini sedikitnya ada 60 perahu yang setiap hari beraktivitas dan parkir di Pantai Baron.

Ketua Kelompok Nelayan Pantai Baron, Sumardi, saat terjadi gelombang besar nelayan harus berjibanu memindahkan perahu mereka ke lokasi yang lebih aman. Sebab jika dibiarkan, perahu bakal rusak terseret arus air.

Akibat abrasi yang terus terjadi, saat ini puluhan perahu terpaksa diparkir di pinggir pantai yang juga menjadi tempat bermain wisatawan. Dampaknya, keberadaan puluhan perahu cukup mengganggu wisatawan.

“Kami berharap penataan Pantai Baron tak hanya mengurus area parkir kendaraan pengunjung dan pedagang. Area parkir perahu juga perlu dipikirkan. Kami berharap penataan pantai bisa mengakomodasi usulan kami agar wisatawan merasa lebih nyaman saat bermain di Pantai Baron," kata Sumardi, saat ditemui Harian Jogja, Rabu (16/1/2019).

Sumardi mengaku pernah menyampaikan usulan soal pemindahan kapal ke tempat yang lebih tinggi ke Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul. "Lima bulan yang lalu kami mengusulkan ke Dispar soal lokasi parkir kapan agak lebih ke utara biar tidak kena abrasi," katanya. Sayangnya hingga saat ini usulan tersebut belum direspons.

Menurutnya persoalan penataan pedagang, tempat parkir dan perahu nelayan tidak hanya menjadi urusan OPD tertentu. Selain Dinas pariwisata, penataan juga harus melibatkan Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) supaya tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.

Sekretaris Dispar Gunungkidul, Hary Sukmono, menjelaskan jajarannya bakal melibatkan semua pihak guna mengakomodasi aspirasi pelaku usaha di Pantai Baron. Menurutnya, keterbatasan tempat menjadi kendala sebagai sarana pemberhentian perahu nelayan. "Nanti bakal disesuaikan dengan detail engineering design [DED]," ucap dia.

Dia menyatakan nelayan yang lebih mengetahui di mana mereka bisa memarkir kapal mereka selepas melaut. "Asal ada lokasi yang bagus bisa digunakan untuk parkir kapal," katanya.