Gedung dan Interiornya Penyumbang Tertinggi Ketidaklestarian Lingkungan

Sunartono
Sunartono Kamis, 31 Januari 2019 22:37 WIB
Gedung dan Interiornya Penyumbang Tertinggi Ketidaklestarian Lingkungan

Ilustrasi perumahan berskema FLPP (Rachman/JIBI/Bisnis)

Harianjogja.com, SLEMAN - Gedung berikut fungsi interior di dalamnya memberikan kontribusi besar terhadap ketidaklestarian alam atau kerusakan lingkungan.

Oleh karena itu desain bangunan yang ramah lingkungan saat ini sudah desak untuk dilakukan. Isu ini menjadi pembahasan dalam Seminar Sakapari 3 di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia (UII).

Ketua Jurusan Arsitektur UII Noor Cholis Idham mengatakan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh dominasi manusia di semua sektor sebagai akibat dari eksploitasi alam. Mulai dari energi tidak terbarukan, emisi karbon yang tinggi, hingga produksi sampah yang tidak terkendali, merupakan efek samping dari proses pembangunan yang tidak diharapkan.

"Sebagai pengguna energi global yang terus meningkat sekitar 40 persen, penghasil emisi CO2 meningkat drastis dalam 30 tahun terakhir antara 75 persen sampai 85 persen. Gedung dan fungsi di dalamnya adalah penyumbang ketidaklestarian dunia tertinggi," terang dia dalam rilisnya, Kamis (31/1/2019).

Ia menegaskan lingkumgan fisik bersama manusia terbukti turut andil besar dalam kerusakan lingkungan yang berdampak pada penurunan kualitas lingkungan akibat pemanasan global. Oleh karena itu, bangunan memang sudah seharusnya saat ini mengedepankan ramah lingkungan.

Alumnus Eastern Mediterranean University, Turki ini mengakui, pembangunan dengan gaya tradisional seperti bahan bambu dan kayu sebaiknya dikedepankan untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan besarnya kebutuhan energi. Dengan catatan, kayu yang dipakai diambil dengan melalui proses reboisasi.

"Karena kalau menggunakam baja ringan seperti sekarang misalnya, prosesnya banyak energi yang dibutuhkan, mulai dari membuat baja itu sampai tiba di lokasi pembangunan," ucapnya.

Selain ramah lingkungan, bangunan tradisional memiliki kelebihan tahan gempa, terutama penggunan bahan bambu. Penggunaan kayu dan bambu sebagai bangunan sebenarnya telah dilakukan nenek moyang terdahulu. Barulah ketika Belanda menjajah Indonesia, kemudian perlahan ada bangunan menggunakan batu bata yang awalnya dibawa dari Belanda.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online