PTKIN Harus Fokus Pada Daya Saing

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Sabtu, 02 Februari 2019 11:10 WIB
PTKIN Harus Fokus Pada Daya Saing

Para wisudawan dan wisudawati Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengikuti prosesi pindah kucir yang dilakukan dekan dari masing-masing fakultas, Rabu (14/11/2018)./Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati

Harianjogja.com, JOGJA -- Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Yudian Wahyudi, menyatakan pascaterbitnya regulasi tentang Akreditasi Perguruan Tinggi yang baru, pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dituntut berpikir inovatif untuk menyelenggarakan sejumlah inisiasi kolaborasi di bidang penguatan akademis.

Inisiasi kolaborasi ini perlu dilakukan dengan sejumlah instansi, baik dalam maupun luar negeri, termasuk kolaborasi riset, shortcourse, atau penerbitan jurnal bersama perguruan tinggi.

Kepala Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Suwendi menyatakan orientasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) ke depan harus pada peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing. Untuk itu, ke depan konsentrasi di bidang kolaborasi riset, penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan publikasi karya-karya ilmiah serta ketergunaan lulusan terhadap dunia kerja perlu dilakukan.

“Perluasan akses dalam tingkat tertentu tetap dilakukan, tetapi perhatian pimpinan PTKIN pada isu penguatan mutu, relevansi dan daya saing itu harus menjadi prioritas utama,” ungkapnya.

Diakui oleh Suwendi, kondisi dosen PTKIN saat ini perlu afirmasi program yang memadai, mengingat jumlah guru besar baru sekitar 4% dari sekitar 12.000 dosen PTKIN.

Atas dasar persoalan tersebut, UIN Sunan Kalijaga bersama 10 PTKIN menjalin kerja sama dengan The University of Newcastle Australia di bidang penguatan studi keluarga (family studies). Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan MoU antara pimpinan 10 PTKIN dengan perwakilan dari The University of Newcastle Australia. Penandatanganan MoU berlangsung di Gedung Prof. Saifuddin Zuhri, kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (28/1/2019).

Adapun 10 PTKIN adalah UIN Sumatra Utara, UIN Palembang, UIN Semarang, UIN Mataram, UIN Aceh, UIN Makassar, UIN Surabaya, dan UIN Malang, UIN Banjarmasin, serta IAIN Surakarta, Jawa Tengah.

“Kerja sama bertujuan agar PTKI benar-benar semakin berkualitas dan meraih yang terbaik,” ujar Rektor.

Ditambahkan Yudian, progam kerja sama ini sudah lama diharapkan di lingkungan PTKIN untuk melengkapi kriteria akreditasi dari tujuh standar beralih ke sembilan standar. Dari sembilan standar itu, ada poin hubungan internasional. “Maka perlu terus menambah jaringan kerja sama dengan kampus luar negeri untuk memenuhi standar kriteria akreditasi,” katanya.

Direktorat PTKIN mendorong kerja sama dengan Newcastle ini, guna terjadinya peningkatan kapasitas dosen PTKI, terutama melalui shortcourse riset dan publikasi ilmiah. Sebab, biasanya dosen terkendala dengan laporan penelitian dan karya-karya ilmiah yang terpublikasi pada jurnal sehingga mereka tidak memenuhi kriteria penilaian angka kredit fungsional dosen, akhirnya mentok, tidak naik ke jabatan fungsional yang lebih tinggi. Kerjasama ini juga bagian dari persiapan tercapainya renstra 2020-2024yang di susun Dirjen Pendis, ungkap doktor UIN Jakarta ini.

Perwakilan dari Universitas Newcastle Alan Hayes menjelaskan program ini akan melahirkan dosen-dosen studi keluarga di UIN dan IAIN yang memiliki penguatan riset dan karya ilmiah yang terpublikasi di jurnal internasional. “Mereka akan dilatih selama empat bulan di Australia dengan mekanisme kolaborasi antara UIN atau IAIN dengan kampus Universitas Newcastle,” kata Alan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online