Tangkal Hoaks, Kominfo Ajak Umat Katolik untuk Saring Sebelum Sebar

Sugeng Pranyoto
Sugeng Pranyoto Kamis, 21 Februari 2019 14:17 WIB
Tangkal Hoaks, Kominfo Ajak Umat Katolik untuk Saring Sebelum Sebar

Ilustrasi hoaks./JIBI

Harianjogja.com, JOGJA--Guna mengaktifkan informasi seputar hoaks, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI bersama umat Katolik di Paroki Banteng menggelar acara Forum Kebangsaan Merawat Kebhinekaan dan Mengurangi Hoaks untuk Pemilu Damai 2019, Sabtu (16/2/2019). Pada kesempatan tersebut, Kominfo berharap umat Katolik khusus di wilayah DIY tidak ikut mengeluarkan tipuan yang semakin masif disebarkan dalam rangka memanfaatkan pemilu 2019.


Rosarita Niken Widiastuti, Sekjen Kominfo mengatakan saat ini jumlah pengguna internet dengan media sosial mencapai angka 143 juta. Di mana 60% adalah anak-anak muda, yang disebut generasi milenial. Akan tetapi, kegemaran bersosial media tersebut, menurut Niken tidak diimbangi dengan tingkat literasi membaca dari masyarakat.


“Saat ini minat baca, peringkat 60 dari 61 negara. Kita saat ini, hanya di atas Botswana sebuah negara di Afrika. Sementara pengguna media sosial kita lebih senang membaca 140 karakter untuk membaca seluruhnya. Dan inilah sebabnya mudah sekali berita hoax menyebar, di tengah-tengah masyarakat," ungkapnya.


Menurut data Kominfo hanya 10%, para penyerbar tipuan dari total pengguna media sosial. Penyebaran berita tipuan bisa sangat masif. Sementara 90% pengguna media sosial lainnya, hanya diam saja dan tidak melakukan tindakan apa pun.

“Dari hasil survei dan penelitian ini, maka kami bergerilya baik ke MUI, umat Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan aliran kepercayaan lainnya, untuk mengajak menentang tipuan. Kali ini kami mengajak umat Katolik, dan meminta agar melakukan saring sebelum berbagi, jika tidak bisa, cukup tipuan yang berakhir di kita jangan disebarkan lagi, ”imbuhnya.

Kominfo mendapat data tentang penyebar tipuan yang semakin banyak diperoleh pada pemilu 2019 ini. Dan penyebaran tersebut sengaja dirancang untuk memainkan masyarakat emosional, agar terjadi perpecahan, yang terjadi tidak terjadi.

“Dengan acara seperti inilah Kominfo berharap lebih banyak masyarakat yang mengerti, perlu membaca dan memahami literasi media sosial. Serta kami yakin agama apa pun yang dapat digunakan untuk menyebarkan tipuan dan kebohongan. Kita harus kembali ke petunjuk hidup bangsa Indonesia yang ramah dan santun," tutupnya. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online