Kasus Bertambah, Cek Data Covid-19 di DIY 18 Maret
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
Ilustrasi Ketua Kelompok Tani Gisik Pranaji, Desa Bugel, Panjatan, Sukarman, membongkar tanaman cabai di lahannya di Desa Bugel, Senin (11/2/2019).-Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
Harianjogja.com, KULONPROGO--Gencarnya pembangunan di Kulonprogo berimbas pada menyusutnya lahan pertanian. Kondisi tersebut memaksa masyarakat untuk mengoptimalkan sisa lahan yang tersedia. Untuk mengatasi itu perlu ada Inovasi, salah satunya dengan memanfaatkan sistem hidroponik.
Hal itulah yang melandasi Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) DIY bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PMD Dalduk KB) Kulonprogo memberikan pelatihan budidaya sayur mayur lewat media hidroponik. Pelatihan ini merupakan program dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI untuk diberikan kepada kelompok masyarakat di DIY.
Untuk Kulonprogo mendapat jatah di tiga desa, yakni Desa Plumbon dan Glagah di Kecamatan Temon serta Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo. Kepala Dinas PMD Dalduk dan KB, Kulonprogo, Sudarmanto, mengatakan dipilihnya ketiga desa tersebut sebagai lokasi pelatihan karena berkurangnya lahan pertanian seiring pesatnya pembangunan, baik itu karena proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, maupun karena peralihan lahan menjadi kawasan industri.
"Seperti Desa Plumbon dan Glagah, yang lahan pertaniannya terdampak bandara, sementara untuk Desa Tuksono karena merupakan kawasan industri. Seiring kemajuan itu, tentu lahan pertanian berkurang," kata Sudarmanto kepada awak media usai penutupan pelatihan hidroponik angkatan kedua di Balai Desa Plumbon, Kecamatan Temon, Jumat (22/3/2019).
Pelatihan hidroponik ini dilangsungkan sejak 18 Maret kemarin dan berakhir pada Jumat (22/3/2019). Masing-masing desa diambil 10 orang. Di sela-sela pelatihan turut diadakan telekonfren antara peserta dengan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo. Usai pelatihan, Dinas PMD Dalduk dan KB bersama pemerintah desa terkait akan mengawasi dan memantau hasil dari pelatihan tersebut hingga peserta mulai panen.
"Kami akan memantau sampai nanti mereka panen, jadi ini tidak hanya sebatas pelatihan saja, tapi bagaimana outcomenya, kami berharap lewat ini nanti bisa turut meningkatkan perekonomian masyarakat," ujar Sudarmanto.
Kepala BBLM DIY, Erlin Chaerlinatun, mengatakan pelatihan hidroponik merupakan salah satu solusi atas keterbatasan lahan dan air untuk pertanian. Menurutnya pelatihan ini sangat penting karena bisa menambah ilmu peserta. Selain teori, peserta juga mempraktekkan langsung apa yang telah mereka serap.
Tidak hanya hidroponik BBLM DIY juga menyediakan 36 jenis pelatihan, di antaranya pembinaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD). "Dalam setahun kami ada tiga sampai lima, untuk di Kulonprogo kerjasamanya sudah baik dan rutin," ujarnya.
Lewat rangkaian pelatihan ini, BBLM DIY berharap pemerintah desa dapat lebih peka dalam memberdayakan masyarakat. Dana desa yang telah dialokasikan pemerintah syogyanya tidak hanya berfokus pada infrastruktur semata, melainkan juga untuk peningkatan sumber daya manusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
Lima WNI dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 dilaporkan ditahan Israel di perairan Siprus.
Jemaah haji asal Solo menjalani amputasi jempol kaki di Makkah akibat komplikasi diabetes saat ibadah haji 2026.
Harga minyak mentah Indonesia April 2026 melonjak menjadi 117,31 dolar AS per barel akibat konflik Timur Tengah dan Selat Hormuz.
Dewan Pers mendesak pemerintah Indonesia menempuh jalur diplomatik untuk membebaskan tiga jurnalis yang ditahan Israel.
Sri Wagiyati, pedagang asongan stadion di Jogja, menemukan keluarga baru lewat kedekatannya dengan suporter BCS, Brajamusti, dan Slemania.