Petani Kalibawang Melawan Hama Kresek

Jalu Rahman Dewantara
Jalu Rahman Dewantara Kamis, 04 April 2019 06:07 WIB
Petani Kalibawang Melawan Hama Kresek

Sejumlah petani dan anggota TNI tengah menyemprotkan cairan pembasmi hama di lahan pertanian Dusun Blumbang, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Rabu (3/4/2019).-Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara

Harianjogja.com, KULONPROGO—Para petani di Dusun Blumbang, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang resah dengan munculnya hama kresek yang menyerang lahan pertanian padi di bulak sawah Blumbang Krengseng. Mereka khawatir jika hama tidak segera teratasi bakal mengakibatkan gagal panen.

Salah satu petani, Kowok, mengungkapkan padi yang diserang masih berusia kurang dari 35 hari. Di setiap rumpun padi didapati lima hingga sepuluh ekor hama. Akibat dari hama itu, tanaman menjadi kering. Efek terburuk petani bisa merugi karena gagal panen. “Hama ini menyerang batang dan daun padi, jika dibiarkan, seluruh tanaman bisa ludes,” ungkapnya, Rabu (3/4/2019).

Koordinator BPP Kalibawang, Ermono, mengatakan hama kresek tersebut menyerang 0,5 hektare dari total 70 hektare di lahan pertanian bulak sawah Blumbang Krengseng. Namun, dia memastikan serangan tidak akan meluas karena pihaknya telah melakukan antisipasi dengan rutin menyemprotkan pembasmi hama.

Kegiatan tersebut bekerja sama dengan para petani setempat dan jajaran TNI dan Polisi. “Memang benar ada serangan hama tapi sudah dikondisikan. Saya harap tidak akan meluas,” paparnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Penyuluh Pertanian Kulonprogo Tata Subrata memastikan pengendalian hama akan terus dilakukan supaya padi tidak gagal panen. Untuk sementara waktu, ancaman hama di bulak sawah Blumbang Krengseng belum terlalu mengkhawatirkan karena lahan yang terserang hama tergolong kecil. Meski begitu, dia mengimbau kepada petani agar rutin menyemprotkan pembasmi hama.

Masa Panen Padi
Masa panen padi di Kulonprogo telah dimulai sejak awal 2019. Sekitar 2.500 hektare di Kecamatan Nanggulan, Lendah, Galur, pada Januari hingga Februari sudah panen dengan produktivitas antara 8,6 ton per hektare gabah kering panen (gkp) hingga 8,9 ton per hektare gkp.

Sementara untuk luasan panen pada Maret hingga April mencapai 5.826 hektar. Lahan tersebut berada di Kecamatan Temon, Wates, Sentolo dan Pengasih dengan produksi rata-rata 8,6 ton per hektare gkp.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo Tri Hidayatun mengatakan musim tanam hingga panen di Kulonprogo tidak ada persoalan. Bahkan, produkvitas tanaman padi menurutnya sangat bagus.

Namun, siklon savannah yang melanda Kulonprogo beberapa waktu lalu diakuinya menghambat produksi. “Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kulonprogo lalu memang menyebabkan sebagian tanaman padi di wilayah Wates dan Temon terendam banjir, sehingga hasilnya kurang maksimal,” katanya.

Meski begitu, berdasarkan ubinan yang dilakukan kelompok tani di Kecamatan Wates, produktivitas padi ternyata bisa mencapai 8,6 ton per hektare gabah kering panen (gkp) dan di Kecamatan Sentolo mencapai 8,9 ton per hektare gkp. "Syukurlah meski sempat terendam, hasilnya tetap bagus," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Galih Eko Kurniawan
Galih Eko Kurniawan Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online