Puluhan Mahasiswa UNJ Kunjungi Harian Jogja
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Early Warning System/Ist-OPI
Harianjogja.com, BANTUL—Kendati kondisinya dipastikan baik, namun keberadaan 29 alat informasi tsunami yang ada di sepanjang Pantai Parangtritis sampai Pandansimo dinilai masih belum mencukupi.
Manajer Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalpos) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Aka Luk Luk mengatakan pantai di Bantul membentang sekitar 13 kilometer dari Parangtritis, Kecamatan Kretek hingga Pandansimo, Kecamatan Srandakan. Menurut dia pemasangan alat informasi tsunami yang bernama Bantul Integrated Sirine System (BISS) itu seharusnya tak hanya dilakukan di sekitar pantai, namun juga harus melebar ke utara, termasuk di tempat-tempat evakuasi sementara.
Jika di banding daerah lain, kata Aka, jumlah alat tersebut memang cukup banyak. "Yang jelas masih kurang meskipun sudah banyak. Idealnya sekitar 40 unit samai ke arah utara. Ada wilayah potensi kena tsunami belum ada [BISS]. Tempat evakuasi sementara itu kan belum ada juga BISS," kata Aka, di Parasamya, kompleks Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Selasa (16/4/2019).
Aka tidak menampik sampai saat ini di Bantul tidak ada alat pendeteki tsunami langsung. Saat ini, kata dia, yang ada adalah alat penyebarluasan informasi tsunami atau lebih dikenal BISS yang jumlahnya sebanyak 29 unit.
Alat tersebut, sebanyak 18 di antaranya dipasang di sekitar pantai. Sisanya terhubung langsung ke masjid dan pemukiman warga.
Cara kerja BISS dikendalikan langsung dari Pusdalops BPBD Bantul yang berjarak sekitar 12-13 kilometer dari pantai. Alat tersebut akan difungsikan ketika Pusdalops menerima informasi peringatan tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY. Setelah informasi potensi tsunami datang kemudian informasi tersebut dilanjutkan oleh BPBD melalui BISS.
Menurut Aka, BISS itu tidak hanya bergungsi suara sirine sebagai tanda bahaya, tapi juga pengeras suara sehingga dapat menginformasikan kepada masyarakat apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. "Otoritas pemberi informasi potensi tsunami tetap dari BMKG. Sirine hanya peringatan bahwa ada bahaya tsunami yang dikendalikan di Pusdalops," ujar Aka.
Dia menyatakan ke-29 BISS dalam kondisi baik dan selalu diuji coba setiap bulan. Disinggung soal rencana pemasangan radar tsunami di pantai Parangtritis, Aka mengatakan sampai saat ini belum ada kepastian.
Dia pun tidak tahu pasti soal rencana tersebut. Pasalnya proyek itu merupakan kerja sama BMKG DIY, Fakultas Geologi UGM, dan Pemerintah Jepang.
Selain berupaya menambah BISS, BPBD Bantul juga berupaya mengajukan pembangunan gedung evakuasi sementara untuk di wilayah pantai Samas, Depok, dan Parangtritis. Saat ini bangunan tempat evakuasi sementara jika terjadi tsunami baru ada satu yang berlokasi di Pantai Kuwaru, Poncosari, Srandakan, yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman di lahan sekitar 3.000 meter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Perkembangan chipset dan AI membuat HP murah kini mampu menghadirkan fitur yang dulu hanya tersedia di smartphone flagship. Simak alasan perbedaannya semakin ti
Estonia dinobatkan sebagai negara terbersih di dunia versi Environmental Performance Index 2024. Simak daftar 10 besar dan posisi Indonesia dalam peringkat glob
Pendidikan karakter dinilai menjadi semakin penting di tengah perubahan teknologi dan budaya yang berlangsung cepat.
Qualcomm akui pangsa modem di iPhone 18 Pro turun drastis, isyaratkan Apple C2 makin dominan. Simak analisis dampaknya.
Biaya hidup yang terus meningkat menuntut pengelolaan keuangan yang lebih disiplin. Simak delapan langkah praktis agar kondisi finansial tetap aman hingga akhir