Sekolah Rakyat Digenjot, Target 100.000 Siswa Kurang Mampu
Pemerintah targetkan 100.000 siswa kurang mampu masuk Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis tanpa pungutan.
Ilustrasi. /Harian Jogja-Salsabila Annisa Azmi
Harianjogja.com, KULONPROGO--Produksi kakao di Kulonprogo hanya mampu dijual langsung dan belum bisa dimaksimalkan pengolahannya. Di Kalibawang yang menjadi sentra tanaman kakao, hanya ada satu rumah produksi saja yang mampu mengolah kakao menjadi beragam produk olahan.
Petani kakao di Dusun Slanden, Desa Banjaroya, Kalibawang, Johan Salbiantoro yang juga sebagai Sekretaris Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Kalibawang
mengatakan, produksi kakao di Kalibawang cukup tinggi. Bahkan kualitasnya pun dianggap bisa bersaing dengan kakao lainnya di luar Kulonprogo.
"Terkadang ada dari Perancis Korea yang mengambil sampel kakao dari sini, nantinya di sana diolah lagi," ujarnya pada Harianjogja.com, Jumat (26/4/2019).
Setiap panennya ia memisahkan antara kakao yang mempunyai kualitas bagus dengan kualitas yang ada di bawahnya. Ketika kualitasnya sedang tidak bagus, ia hanya menjual kakao di pasar lokal saja.
Di kelompok taninya, dalam sepekan bisa terkumpul sampai 80 kilogram kakao yang siap dipasarkan. Harga kakao ketika sedang dalam kualitas bagus bisa terjual sampai Rp40.000 per kilogram. Sedangkan apabila kualitas kakao sedang tidak bagus maka hanya terjual Rp25.000 per kilogram.
"Biasanya kalau saat musim hujan, buah kakao kualitasnya tidak bagus, banyak juga terserang hama, produksinya juga turun. Kalau produksi baik itu di Juni sampai Oktober," jelas Johan.
Menurutnya, produksi kakao Kulonprogo sangat potensial untuk dikembangkan. Namun, sayangnya belum banyak rumah produksi yang mengolah lagi kakaonya di Kulonprogo. "Di Kalibawang ini sentranya tanaman kakao, tapi rumah produksinya paling hanya satu saja," kata Johan.
Kelompok Wanita Tani (KWT) Pawon Gendis merupakan rumah produksi cokelat di Kalibawang yang mengolah kakao asli Kalibawang menjadi cokelat. Ketua KWT Pawon Gendis, Dwi Martuti Rahayu mengatakan, dengan mengolahnya menjadi cokelat, ia mendapatkan nilai tambah.
Dalam sebulan, ia membutuhkan kakao dari petani sampai 70 kilogram. Sementara, omset bisa ia dapatkan dalam sebulannya sampai Rp10 juta. Namun, menurutnya, dalam mengembangkan produk kakao itu, harus ada inovasi agar punya pangsa pasar tersendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPKH mengajak generasi muda mulai merencanakan keuangan haji sejak dini sekaligus memanfaatkan platform digital untuk dakwah.
Zulhas memastikan manajer Kopdes yang ditempatkan jauh dari domisili akan disesuaikan ke koperasi terdekat setelah titik tersedia.
Kejagung menyebut kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG mencapai sekitar Rp10 triliun berdasarkan penghitungan BPKP.
Sebanyak 40 KDMP di Sleman sudah beroperasi hingga September 2026, sedangkan 46 lainnya masih berproses menjalankan unit usaha.
Bansos beras 30 kg kembali disalurkan Oktober-Desember 2026 untuk 33,24 juta penerima. Cek status penerima menggunakan NIK.