MONTANA CAFE DITUTUP : Dinilai Jadi Sarang Preman, Warga Paksa Kafe Ditutup

06 Juni 2013 19:24 WIB Sunartono Sleman Share :

[caption id="attachment_413293" align="alignleft" width="150"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/06/06/montana-cafe-ditutup-dinilai-jadi-sarang-preman-warga-paksa-kafe-ditutup-413291/miras-37" rel="attachment wp-att-413293">http://images.harianjogja.com/2013/06/miras-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /> Ilustrasi.dok[/caption]

SLEMAN-Puluhan warga Mundu Saren, Caturtunggal, Depok, Sleman, menggeruduk Montana Cafe, Kamis (6/6/2013) petang. Warga menduga kafe yang biasa menyuguhkan live musik dangdut itu sebagai sarang preman dan tempat mesum.

Berdasarkan pantuan Harian Jogja, warga yang datang langsung membongkar jalan gorong-gorong beton di depan pintu masuk kafe tersebut. Tak sampai disitu, warga juga memasang tiga spanduk dan menutup dua papan nama Montana Cafe dengan cat bertuliskan "Ditutup Warga".

Adapun dua spanduk yang terpasang di depan cafe diantara bertuliskan "Cafe Sarang Premanisme, Tolak Prostitusi" dan "Warga menolak adanya cafe live musik". Warga juga mencoret-coret dinding cafe sebagai bentuk protes terhadap pemilik yang nekat tetap membuka tempat usahanya tersebut.

"Ini adalah puncak kekesalan warga karena pemilik kafe ngeyel.Semua warga mengeluh sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun," ujar salah satu warga Heru Yunianto kepada Harian Jogja di depan kafe tersebut.

Heru mengungkapkan warga kesal karena hampir setiap malam terjadi keributan hingga duel senjata tajam di kafe tersebut. Selain itu semua pengunjung yang datang ke kafe selalu mabuk dan menganggu lalulintas dan warga.

"Wajib, keluar dari [Montana] kafe mesti mabuk. Ini sangat menganggu warga terutama saat pagi hari," tandasnya.