Tata, Si Pelukis Cilik Ini Lukisannya Disimpan Museum di Korea Selatan

27 Juni 2013 06:00 WIB Jogja Share :

[caption id="attachment_420158" align="alignleft" width="314"]http://www.harianjogja.com/?attachment_id=420158" rel="attachment wp-att-420158">http://images.harianjogja.com/2013/06/Tata-pelukis-cilik-KURNIYANTO.jpg" alt="" width="314" height="209" /> Foto Tata saat melukis di Hotel Duta Wisata, Jalan Urip Sumoharjo, Rabu (26/6/2013), malam. Tepat di depannya adalah karya lukisan repro yang saat ini disimpan di Museum Nasional Korea Selatan.
JIBI/Harian Jogja/Kurniyanto[/caption]

JOGJA-Pelukis cilik Jogja, Buah Kasih Kalpitadjati yang akrab disapa Tata menggelar pameran tunggal bertajuk Mengisi Liburan untuk Menggapai Cita di Hotel Duta Wisata, Jalan Urip Sumoharjo, Jogja.

Pameran yang berlangsung dari tanggal 22 Juni - 8 Juli ini merupakan kali pertama Tata berpameran secara tunggal. Tidak banyak yang tahu, gadis berusia 13 tahun adalah seniman cilik berprestasi.

Ia kerap mendapatkan banyak penghargaan baik di tingkat nasional maupun mancanegara. Bahkan salah karya lukisnya disimpan di museum nasional Korea.

Pendiam dan pemalu. Itulah kesan pertama Harian Jogja saat mewancarainya di Hotel Duta Wisata, Jalan Solo, tempat Tata berpameran. Saat dicecar dengan sejumlah pertanyaan ia cenderung hanya menjawab seperlunya saja.

Bahkan pertanyaan yang terlontar kepadanya lebih sering dijawab oleh Dyah Savariani, ibunda Tata yang kala itu turut menemani. "Maaf mas anaknya memang sedikit pemalu," ujar Dyah Saviriani, kepada Harian Jogja, Rabu (26/6/2013).

Namun siapa sangka di balik sikap pemalunya itu Tata adalah pelukis cilik dengan segudang prestasi baik lokal maupun mancanegara. Pada 2011 lalu, Tata pernah menyabet juara dua Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLSN) tingkat Sekolah Dasar di Makassar, Sulawesi Selatan saat mewakili Jogja.

Karena prestasi itulah, pemerintah pusat memintanya membuat karya lukis bertemakan pesan perdamaian. Lukisannya itu bahkan dipesan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk dijadikan sebagai cinderamata saat menggelar pertemuan antar pemimpin dunia di Korea pada 2012 lalu.

"Dia [Tata] membuat dua lukisan, tapi bu Ani Yudhoyono hanya memilih satu lukisan saja untuk dijadikan cindera mata dengan pemimpin dunia lainnya saat berada di Korea. Lukisannya yang diminta oleh Presiden itu kini dipakang di mesum nasional di Korea," ujar Dyah.

Bakat melukis bocah yang baru saja lulus SD Ungaran 1 Jogja itu sejatinya terjadi karena `Kecelakaan`. Bagaimana tidak, saat kecil, ibunya pertama kali memperkenalkan dunia seni kepadanya lewat musik piano. Tata secara khusus di-leskan pada guru musik piano.

Sayang, perkenalan Tata pada piano tidak berlangsung lama karena ia tidak betah karena guru sang guru galak bukan main. "Karena takut sama gurunya akhirnya dia [Tata] meminta berhenti dan beralih ke melukis," jelas Dyah.

Tata lantas menekuni melukis sejak duduk di bangku kelas III SD hingga sekarang ini, ia aktif belajar melukis di sanggar Wisanggeni yang berlokasi di Jalan Godean, Sleman. Ibunda Tata mengaku bahwa sejatinya darah seni yang mengalir dalam tubuh Tata terjadi secara alamiah.

Pasalnya garis keturunan Tata tidak ada satupun yang menjadi pelukis atau seniman. "Barangkali dari ayahnya. Kebetulan ayah Tata itu kerjanya jadi arsitek. Bisa jadi ada bakat dari ayahnya," tuturnya.

Dalam pameran ini sebanyak 28 karya lukis yang dibuat Tata pada periode 2009-2013. Seperti yang terlihat pada lukisan bocah umumnya, lukisan Tata itu khas lukisan 'Sanggar' dengan warnanya yang cerah dan lebih banyak mengangkat figur manusia dengan berbagai aktivitasnya.

Beberapa di antaranya menggambarkan dirinya sendiri yang sedang bermain bersama kawannya, atau tengah berdoa dengan ibunya saat melakukan salat.

Tata mengakui lukisan yang dibuatnya itu dibuat secara spontan dengan menggunakan referensi sejumlah buku komik. "Yang sedang ada dipikiran biasanya langsung aku buat bahan melukis," ungkap Tata yang tinggal di Buasasran, Jogja, dengan tersipu malu.

Lukisan tersebut, ungkap Tata sebagian besar ia buat setiap hari dengan lebih dahulu menyelesaikan tugas tugasnya di sekolah. "Setiap hari rata rata bisa jadi dua karya lukis," beber gadis yang bercita cita menjadi Arsitek seperti ayahnya.

Tata berharap pamerannya ini bisa memberikan suguhan baru dalam dunia seni rupa di Jogja yang sebagian besar masih didominasi seniman berusia matang. Terlebih, waktu ia pameran itu bertepatan dengan hari libur sekolah sehingga diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi bocah seumurannya untuk berkarya.