Advertisement
Pertumbuhan Ekonomi DIY Melambat
Advertisement
[caption id="attachment_448361" align="alignleft" width="500"]http://www.harianjogja.com/?attachment_id=448361" rel="attachment wp-att-448361">http://images.harianjogja.com/2013/09/uang-berbagai-nominal-bisnis-indonesia1.jpg" alt="" width="500" height="332" /> Ilutrasi uang (JIBI/Harian Jogja/Bisnis Indonesia)[/caption]
Harianjogja.com, JOGJA–Pada triwulan ketiga dan keempat 2013, pertumbuhan ekonomi di DIY diperkirakan akan melambat.
Advertisement
Sebelumnya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Jogja memprediksi pertumbuhan ekonomi di DIY pada 2013 bisa mencapai 5% hingga 6%. Namun kini, terjadi koreksi, di mana pertumbuhan ekonomi DIY diperkirakan hanya mampu mencapai 4,5% hingga 5,5%.
Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIY Arief Budi Santosa, perlambatan tersebut terjadi karena melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini.
“Triwulan pertama 2013 lalu pertumbuhan ekonomi DIY tercatat 5,06 persen dan pada triwulan kedua realisasinya lebih tinggi yakni 5,71 persen. Tetapi pada triwulan ketiga dan keempat nampaknya akan ada perlambatan,” kata dia, Senin (16/9/2013).
Dia menjelaskan, melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan berdampak pada pendanaan perbankan. Di mana terdapat kecenderungan bunga kredit mengalami kenaikan.
"Hal itu dikhawatirkan akan meningkatkan jumlah kredit bermasalah atau non performing loan (NPL)," jelas dia.
Meski begitu, menurut Arief, untuk wilayah DIY, sebenarnya dampak dari pelemahan nilai tukar belum begitu terasa. Hal tersebut karena di DIY, selama ini sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang mendominasi perekonomian mayoritas menggunakan produk lokal.
“Sebenarnya UMKM akan lebih kuat terhadap tekanan pelemahan nilai tukar rupiah karena UMKM di DIY tidak begitu tergantung barang impor. Bahkan beberapa ada yang diuntungkan karena nilai ekspornya jadi naik,” kata dia.
Asisten Direktur KPBI DIY, Djoko Raharto menambahkan, sektor-sektor perekonomian yang diperkirakan melambat pada triwulan ketiga dan keempat di wilayah DIY di antaranya adalah pertanian, industri dan bangunan.
"Produksi pertanian memang menurun dibanding 2012 sedangkan industri dan bangunan diperkirakan melambat karena suku bunga kredit,” kata dia pada kesempatan yang sama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Waspada Efek Perang Timur Tengah, Malaysia Perketat Keamanan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
- Operasi SAR Yunanta di Sungai Opak Resmi Ditutup Setelah 7 Hari
Advertisement
Advertisement




