Advertisement
PAHLAWAN NASIONAL : Dokter Radjiman Wedyodiningrat, Sedikit Bicara Banyak Kerja
Advertisement
Nama dokter Radjiman Wedyodiningrat terselip dalam lembaran sejarah Indonesia. Publik pun tidak mengingat benar siapa http://www.harianjogja.com/baca/2013/11/10/hari-pahlawan-radjiman-wedyodiningrat-ditetapkan-sebagai-pahlawan-nasional-464039" target="_blank">pria yang dimakamkan di daerah Sleman tersebut.
“Saya pernah dengar nama dokter Radjiman tapi saya tidak tahu di mana ia dimakamkan dan perannya di masa lalu,” kata Teguh, 21, salah seorang mahasiswa yang ditemui harianjogja.com, Minggu (10/11/2013) siang di salah satu warung burjo, Jalan Magelang, Mlati, Sleman.
Advertisement
Teguh, yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di kawasan Jalan Ring Road Utara itu tak tahu kalau sepelemparan batu dari tempat ia bersantap tersebut, terletak makam dokter Radjiman Wedyodiningrat yang baru saja ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Nama Radjiman selalu terselip, bahkan hingga ke liang lahat. Ia dimakamkan di kompleks Taman Makam Pahlawan Wahidin Sudirohusodo, Mlati.
Tokoh tersebut sejatinya merupakan tokoh pergerakan nasional, meski kiprahnya tak setenar Soekarno-Hatta. Ia merupakan salah satu pendiri Boedi Oetomo dan sempat menjadi ketua organisasi itu periode 1914-1915.
Ia juga mewakili Boedi Oetomo menjadi anggota dewan Volksraad bentukan Belanda sampai 1931. Radjiman memiliki andil besar dalam usaha mencapai kemerdekaan Indonesia dengan menjadi Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Ia menjadi pemantik diskusi perihal dasar negara.
Dalam sidang PPKI, dokter Radjiman menanyakan dasar negara Indonesia. Dan kelak setelah merdeka, pertanyaannya itu dijawab Bung Karno dengan uraian tentang pancasila.
Uraian tersebut diyakini pernah ditulis Radjiman Wedyodiningrat dalam sebuah pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama pada 1948 di Desa Dirgo, Widodaren, Ngawi.
Perannya kemudian meredup dan meninggal hampir satu dasawarsa setelah proklamasi yakni 1952 di Ngawi. Di kabupaten itulah ia membaktikan dirinya sebagai dokter.
Sejarawan UGM, Joko Suryo menilai dokter Radjiman kurang dikenal luas karena karakternya yang tidak ingin menonjolkan diri. Dokter Jawa tersebut tipe pria yang sedikit berbicara tapi banyak bekerja.
“Banyak hal yang bisa dipelajari generasi muda dari karakter dokter Radjiman yakni seorang intelektual tapi peduli nasib rakyat, dan aktif mengikuti pergerakan politik serta tidak melupakan perannya sebagai dokter yang melayani masyarakat kecil, tanpa pamrih,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
BMKG: Gempa Ternate Akibat Sesar Naik, Warga Diminta Jauhi Pantai
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Pemkot Jogja Tegaskan Larangan Siswa Tanpa SIM Bawa Motor ke Sekolah
- Kirab HUT Sri Sultan HB X, Malioboro Ditutup Mulai Kamis Pagi
- Malioboro Ditutup saat Kirab HUT Sultan HB X, Ini Rute Pengalihan Arus
- Ramp Tol Jogja-Solo di Trihanggo Dikebut, Gerbang Tol Segera Dibangun
- Kulonprogo Siapkan Skema Nunut ASN untuk Tekan BBM
Advertisement
Advertisement




