Ekonomi di Bantul Lumpuh

JIBI/Harian Jogja/Desi SuryantoWarga menerobos hujan abu vulkanik di kawasan Simpang Empat Tugu, Yogyakarta, Jumat (14/02/2014). Erupsi Gunung Kelud di pada Kamis (13/02 - 2014) melontarkan jutaan material vulkanik, abu vulkanik melayang di atmosfer ke arah barat hingga menyebabkan hujan abu sampai wilayah Kebumen, Jawa Tengah dan ke arah timur hingga Ampenan, Nusa Tenggara Barat.
15 Februari 2014 12:26 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Kendati berjarak lebih dari 200 km dari DIY, letusan Gunung Kelud di Jawa Timur pada Kamis (13/2/2014) malam menyebabkan aktivitas perekonomian di Kabupaten Bantul lumpuh pada Jumat (14/2/2014).

Di pusat perbelanjaan di Bantul, aktivitas jual beli masyarakat nyaris terhenti. Di Pasar Tradisional Bantul hanya tiga-empat lapak sayuran yang buka. Sementara kios-kios pedagang tutup. Sementara toko-toko di pinggir jalan maupun warung makan juga tutup. Warga yang hendak makan siang kesulitan mencari warung yang buka.

Ponidi,35, salah satu pedagang di Pasar Bantul menyatakan, sepinya Pasar Bantul sudah terjadi sejak pagi hari. "Sudah sepi dari pagi. Yang jual ayam saja biasanya ada delapan belas orang sekarang cuma satu orang," kata Ponidi, Jumat (14/2/2014).

Pedagang memilih tidak berjualan, di antaranya karena sepinya pembeli. Lantaran warga memilih berdiam di dalam rumah. Selain itu, pengepul yang biasa memasok pangan ke Pasar Bantul juga tidak datang. Pedagang sayur yang nekad membuka lapak hanya mengandalkan sayur sisa hari sebelumnya yang belum laku terjual.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul Sulistyanta menyatakan, lumpuhnya perekonomian juga terjadi di Pasar Niten.

"Tadi pagi saya singgah ke Niten, hanya 40% yang buka," ujarnya.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Dewanto mengakui, dampak letusan Gunung Kelud lebih parah dari Merapi meski jarak antara lokasi letusan dengan DIY mencapai lebih dari 200 Km. "Bantul ini termasuk parah, tertiup angin kencang hingga abu menebal," ungkap Dewanto.