Pergantian Musim Diperkirakan April, Hujan Masih akan Turun di Jogja

23 Februari 2014 14:15 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Meski hujan telah turun di wilayah DIY, abu vulkanik masih belum bersih. Sejumlah pihak merekomendasikan hujan buatan untuk membersihkan abu vulkanik letusan Gunung Kelud tersebut.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja, Toni Wijaya mengatakan hujan yang terjadi Jumat (21/2/2014) dalam intensitas ringan hingga sedang dengan curah hujan mencapai 20-50 mm.

“Masyarakat tidak perlu khawatir, karena hujan masih akan terus turun. Karena, perubahan iklim baru akan terjadi pada April nanti,” katanya.

Dia mencatat, sejak erupsi Gunung Kelud, DIY diguyur hujan sebanyak dua kali, tepatnya tanggal 17 dan 19 Ferbuari. Hanya, distribusi dan tempat hujan tidak merata, sedangkan dari sisi intensitas tidak jauh beda dengan hujan kemarin.

“Normalnya, curah hujan 50-100 mm per sepuluh hari. Dan kalau dihitung-hitung sejak erupsi kemarin, kondisinya masih normal,” tegasnya.

Jika intensitas hujan belum maksimal, pemerintah daerah perlu membuat hujan buatan. Namun, Tony Agus Wijaya mengatakan, pihaknya tidak berwenang untuk membuat hujan buatan di Jogja.

"Pergantian musim kemarau baru akan terjadi pada April mendatang. Karena itu, curah hujan masih sangat dimungkinkan ada di wilayah Jogja. Masalahnya, meski sudah diguyur hujan namun tidak merata di seluruh DIY," katanya.

Menurutnya, BMKG awalnya sempat senang karena muncul bibit badai di dekat Australia. Bibit badai tersebut muncul dua hari setelah hujan abu vulkanik erupsi Gunung Kelud. Namun sayang, akibat perubahan pola angin di wilayah Sumatra, bibit badai tersebut hilang.

"Karena badai itu tidak jadi muncul, maka berimbas pada rendahnya curah hujan di Jogja. Akibatnya, debu vulkanik belum bisa hilang. Apalagi ini mendekati pancaroba, kalau angin akan cenderung kencang maka debu akan semakin beterbangan," katanya.