Jogja Perlu Hujan Buatan untuk Bersihkan Debu

23 Februari 2014 06:15 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Kepala Dinas Kesehatan DIY Arida Oetami mengatakan, berdasarkan data hingga Kamis (19/2/2014) di DIY ditemukan 1.315 kasus infeksi saluran pernasafan akut (ISPA), 165 kasus iritasi mata dan 115 kasus radang tenggorokan akibat abu vulkanik ini.

"Kalau belum juga berkurang maka jumlah ini dimungkinkan akan terus bertambah," katanya.

Menurutnya, saat ini masih sangat memungkinkan Pemda DIY membuat hujan buatan. Karena salah satu syarat dilakukan hujan buatan adalah adanya awan di atas udara.

Apalagi, saat ini wilayah DIY masih masuk musim hujan dan awan masih banyak. Jika abu vulkanik tidak segera ditangani, akan berdampak pada kesehatan masyarakat secara luas.

"Selain debu yang berpengaruh pada saluran pernapasan, mata dan kulit juga berpengaruh pada suhu udara. Sifat abu vulkanik tersebut adalah higroskpis atau menyerap air. Jika banyak kandungan debu di udara maka air akan terserap dan kelembaban udara akan turun sehingga suhu udara akan semakin panas," katanya, akhir pekan ini.

Sementara itu, sejumlah warga langsung membersihkan rumah saat hujan yang terjadi, kemarin. “Saya bela-belain pulang dari kantor untuk membersihkan rumah saya dari debu. Lumayan kan hujan merata sehingga membuat atap-atap rumah jadi bersih. Jadi saya membersihkannya lebih mudah,” kata Indro Hartono, salah seorang warga Kampung Tahunan, Kelurahan Tahunan, Umbulharjo.

Menurut dia, gara-gara hujan abu, hujan sangat ditunggu-tunggu. Selain untuk mengurangi polusi udara akibat debu yang berterbangan, guyuran air digunakan untuk mempermudah memberishkan rumah dari sisa-sisa debu.

“Saya sempat mau menyerah, karena debu seakan enggak ada habisnya. Habis dibersihakan, tidak berselang lama debu kembali lagi,” keluhnya.

Tak jauh berbeda juga dialami Anom Prasetyo, Warga RT 08, Kelurahan Tahunan. Akibat debu itu, anaknya yang berusia dua tahun sempat terkena alergi debu. Beruntung, kondisi itu segera teratasi seusai memeriksakan anaknya ke puskesmas.

“Padahal saya terus membersihkan, tapi debu seperti tidak ada habisnya,” katanya.

Dia berpendapat minimnya air dan keterbatasan peralatan membuat upaya pembersihan menjadi terganggu. Akibatnya, kebersihan dilakukan hanya di area yang mudah dijangkau tangan manusia. Sedangkan, area seperti atap-atap rumah dan pepohonan dibiarkan begitu saja, seraya menunggu hujan turun.