Advertisement

MATA AIR GUNUNG MERAPI : Mata Air Bebeng akan Dinormalisasi

Sunartono
Sabtu, 26 Juli 2014 - 08:23 WIB
Nina Atmasari
MATA AIR GUNUNG MERAPI : Mata Air Bebeng akan Dinormalisasi

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman akan melakukan normalisasi mata air Sungai Bebeng yang berada di Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan. Pasalnya mata air itu mengalami penurunan debit secara signifikan pasca erupsi Merapi bahkan diperparah dengan musim kemarau.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman, Sapto Winarno menjelaskan, normalisasi mata air akan dilakukan pada Agustus 2014 mendatang. Normalisasi Bebeng dilakukan dengan menelusuri saluran pipa air yang terpendam material erupsi, serta mencari kemudian membuka berbagai titik saluran mata air yang tertutup material erupsi Merapi.

Advertisement

"Yang terkena dampak erupsi selain Bebeng juga [mata air] Umbulwadon [Kepuharjo]. Tapi yang Umbulwadon sudah dinormalisasi jadi sudah lancar. Kami usahakan Bebeng segera ditangani paling tidak setelah Lebaran ini," katanya, Kamis (24/7/2014).

Mata air Bebeng memang menjadi tumpuan hidup warga Glagaharjo. Saat ini pihaknya masih mengupayakan agar warga tidak kekurangan air bersih seperti memberikan dropping air.

Untuk melakukan normalisasi mata air, pihaknya menggandeng paguyuban pengelola mata air Bebeng. Karena, mata air tersebut dikelola oleh masyarakat, ada yang dari warga Glagaharjo, Cangkringan dan juga Balerante, Kemalang, Klaten.

Dari hasil observasi, pihaknya sudah menemukan titik-titik yang akan dilakukan normalisasi. Langkah yang akan segera ditempuh yaitu memecah batu yang menutupi dan merusak jaringan pipa besi yang teraliri air. Dari dekat hulu mata air ditemukan batu besar yang menekan pipa besi, sehingga diyakini menjadi penyebab menurunnya debit air.

Jika mata air utama sudah diketemukan maka akan dibangun pelindung demi kelancaran mata air. "Karena dengan tertekannya pipa besi itu, debit air berkurang, awalnya mencapai 56 liter per detik, kini turun menjadi 30 liter per detik," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Korban Luka di UEA Tembus 217, WN Rusia Ikut Terdampak

Korban Luka di UEA Tembus 217, WN Rusia Ikut Terdampak

News
| Minggu, 05 April 2026, 04:27 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement