Advertisement

KEKERINGAN GUNUNGKIDUL : Hasil Penjualan Kerajinan Bambu Untuk Beli Air

Kusnul Isti Qomah
Senin, 15 September 2014 - 12:20 WIB
Mediani Dyah Natalia
KEKERINGAN GUNUNGKIDUL : Hasil Penjualan Kerajinan Bambu Untuk Beli Air

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Warga yang mengalami kekeringan berusaha melakukan berbagai cara untuk membeli air, termasuk menjual http://www.harianjogja.com/baca/2014/09/11/kekeringan-gunungkidul-warga-terpaksa-jual-ternak-untuk-beli-air-535065">ternak maupun http://www.harianjogja.com/baca/2014/09/11/kekeringan-kulonprogo-sawah-mengering-petani-jual-bongkahan-tanah-535038">bongkahan tanah sawah. Adapun, warga Dusun Ngampiran, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul memilih menjual kerajinan dari bambu.

Salah satu warga Sunardi, 32, mengatakan ada 75 KK di Dusun Ngampiran. Mayoritas merupakan petani. Namun, selain petani mereka juga merupakan perajin bambu. Di musim kemarau seperti sekarang ini, hasil penjualan kerajinan dari bambu biasanya digunakan untuk membeli air bersih.

Advertisement

“Satu tangki air bersih harganya Rp110.000. Harga yang sangat mahal bagi kami. Air itu diambil dari sumber air di Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah,” ujar dia kepada Harianjogja.com beberapa waktu lalu di rumahnya.

Menurut dia, terkadang satu keluarga tak cukup hanya dengan satu tangki air untuk kebutuhan hidup satu bulan. Sebab ada keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga banyak. Akibatnya  10 tangki air bersih yang dibeli sejak musim kemarau berlangsung (awal Juni) tak cukup.

“Bagi yang punya uang, bisa langsung membeli. Tapi, kalau yang tidak mampu ya harus menjual ternak terlebih dahulu atau menjual tampah [kerajinan dari bambu],” ujar dia.

Sunardi mengatakan, satu buah tampah dijual dengan harga Rp7.500 hingga Rp8.000. Setiap perajin, bisa menjual tampah 60 buah. Hasil penjualan tampah, imbuh dia, sebagian digunakan untuk membeli air. Sisanya, untuk membeli bahan baku membuat kerajinan tampah.

“Tapi, warga sedang kesulitan mencari bahan baku karena sekarang banyak yang membangun kandang ayam. Kami tidak punya lahan bambu sendiri, sehingga harus beli dari Ngadirojo, Wonogiri,” ujar dia.

Sunardi mengungkapkan, warga biasanya langsung membeli baha baku dalam jumlah besar misalnya 50 batang. Setiap batang dibeli dengan harga Rp15.000. Menurut Sunardi, satu batang bambu bisa digunakan untuk membuat 10 buah tampah.

Warga lainnya, Ratmadi, 42, menambahkan, untuk membeli air, warga kesusahan jika harus menjual gaplek terlebih dahulu. Pasalnya, menurut Ratmadi, jika harus menjual gaplek untuk membeli air, warga harus menjual gaplek dalam jumlah yang sangat besar.

“Satu kilogram gaplek harganya Rp1.700. Misal untuk membeli air satu tangki harus menjual 100 kilogram gaplek. Belum tentu warga memiliki gaplek sebanyak itu,” ungkap dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi

Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi

News
| Sabtu, 04 April 2026, 23:47 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement