Advertisement

JIPA FESTIVAL 2014 : Penonton Kurang Apresiasi Karya

Arief Junianto
Rabu, 03 Desember 2014 - 03:20 WIB
Mediani Dyah Natalia
JIPA FESTIVAL 2014 : Penonton Kurang Apresiasi Karya

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN-Dua buah kursi dengan sorot lampu di atas panggung menjadi pusat pergerakan 3 orang penari. Dengan mengadopsi gerakan-gerakan balet yang meliuk-liuk mereka menampilkan tarian yang beritme sedang dengan musik yang ritmis.

Melalui tarian '(Be) Longing' yang merupakan hasil karya koreografer muda Indonesia Siti Ajeng Soelaeman, ketiga penari itu seolah menjadi simbol refleksi manusia saat ini yang tengah berupaya keras beradaptasi dengan hidup dan kehidupannya. Gerakan ketiganya menjadi simbol betapa seorang manusia harus senantiasa memiliki kemampuan untuk mengintimi lingkungannya yang bersifat dinamis dan selalu berubah-ubah.

Advertisement

Gerak ketiga penari itu yang seolah tanpa jeda juga menyiratkan polah manusia yang selalu dituntut untuk terus bergerak dan berekspresi. Kendati begitu, gerakan itu justru membuat karya tari bedurasi 40 menit tersebut menjadi terlihat lebih segar dan dinamis. Tari kontemporer berjudul (Be) Longing itu sendiri merupakan karya terbaik yang mengantarkan Siti Ajeng Soelaeman meraih kesempatandalam program Hibah Seni 2014 oleh Yayasan Kelola.

Tampil sebagai salah satu performance di hari terakhir Jogja International Performance Art (JIPA) Festival 2014, memang menambah keragaman event tahunan internasional tersebut. Dengan mengambil dasar pementasan berupa tari ballet, karya Siti Ajeng Soelaeman itu terlihat berbeda dari karya-karya yang lain.

Seperti diakui Direktur JIPA Festival 2014 Bambang Paningron. Kepada Harianjogja.com, dirinya mengatakan gelaran JIPA Festival 2014 terbilang cukup sukses menyuguhkan betapa beragamnya karakter seni pertunjukan. Kehadiran beberapa performer dari luar negeri memang membuktikan bahwa seni pertunjukan bisa menjadi ajang inter-cultural experience bagi mereka.

"Hebatnya, JIPA Festival ini menjadi nilai tawar tersendiri dalam diplomasi budaya. Setidaknya ini adalah pengalaman inter-kultural bagi mereka [seniman]," ucapnya.

Dalam pertunjukan, pengalaman inter-kultural itu bisa muncul melalui gagasan-gagasan yang ditawarkan oleh masing-masing seniman. Gagasan-gagasan yangcukup mewakili budaya dari masing-masing seniman menjadi ajang pengalaman senidir dari seniman lainnya yang memiliki kebudayaan yang berbeda.

Oleh karena itulah, terkait gagasan ini, pihaknya tak memiliki kewenangan untuk memberikan batasan. Begitu pula dengan tim kurator pun tak memiliki kekuatan untuk menyentuh aspek yang mutlak menjadi milik sang kreator (koreografer) itu.

"Tapi bagaimanapun, sebagai festival, JIPA Festival tentu memiliki standar, meskipun kadang itu tak bisa jadi harga mati. Karena bagaimanapun kurator tak akan selamanya menemui seniman dengan kualitas performance yang stabil," tegasnya.

Tak hanya itu, dirinya juga mencatat kendala klise yang selalu berulang sejak JIPA Festival digelar 2003 lalu. Kendala itu adalah rendahnya apresiasi penonton terhadap karya yang ditampilkan. Dikatakannya, penggunaan kamera, baik ponsel maupun kamera digital sangat mengganggu pertunjukan. Bagi performer, hal ini jelas sangat menganggu. Terlebih bagi performer yang berasal dari luar negeri. Oleh karena itu, tahun depan dirinya berharap ada peningkatan apresiasi penonton terhadap karya yang tampil. Salah satu upaya yang dilakukannya adalah dengan memperketat aktivitas penonton, terutama yang terkait dengan pengambilan gambar.

"Salah satunya adalah dengan melokalisir para fotografer dan jurnalis. Jadi harapannya, di kursi penonton tak ada lagi yang mengambil gambar," tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi

Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi

News
| Sabtu, 04 April 2026, 23:47 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement