Advertisement
Cabai dan Mangga Busuk Bisa Berantas Hama
Advertisement
Buah Cabai dan Mangga ternyata bisa digunakan untuk memberantas hama yang mengganggu tanaman
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Buah-buahan yang membusuk biasanya dibuang ke tempat sampah. Namun, di tangan para petani Dusun Ngawis II, Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, buah-buahan busuk itu disulap menjadi agen hayati yang berguna bagi tanaman. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com, Kusnul Isti Qomah.
Advertisement
Agen hayati atau juga dikenal dengan istilah plant growth promoting rhizobacteria (PGPR). Agen hayati mampu mempercepat pertumbuhan tanaman sekaligus melindungi tanaman dari serangan hama.
Agen hayati bukan sesuatu yang sulit didapatkan. Bahkan, jika ada kemauan, petani pun bisa membuatnya sendiri. Seperti yang dilakukan petani di Dusun Ngawis II, Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo ini.
“Kami membuat agen hayati sendiri. Bahan-bahannya juga tersedia di sekitar kami,” ujar salah satu petani, Nuri, Senin (15/12/2014).
Pagi itu, ia dan beberapa rekannya tampak sibuk menyiapkan berbagai hal. Ada yang membawa ember berisi beberapa buah mangga busuk, satu tas plastik berisi cabai busuk, sebotol air rendaman akar bambu, beberapa botol air rendaman beras, hingga bonggol pisang.
Satu demi satu, mangga yang membusuk di suatu bagian dikupas. Setelah dikupas, mangga tersebut dipotong menyerupai bentuk dadu. Tampak ulat-ulat kecil menyembul dari dalam daging mangga tersebut. Selesai dengan mangga busuk, petani beralih ke dua bonggol pisang. Satu per satu dipotong dengan ukuran kecil sekitar lima sentimeter.
Dua petani kemudian mengeluarkan alat penggiling manual. Potongan mangga itu pun sedikit demi sedikit dihaluskan dan dimasukkan ke dalam galon kosong. Setelah seluruh mangga digiling, mereka menggiling cabai busuk.
“Wah, penggilingnya macet. Tangkai cabainya harus dipotongi dulu,” kata Nuri.
Dengan santai dan penuh canda tawa, pria-pria itu menyelesaikan tugas mereka. Gilingan cabai pun masuk ke dalam galon bersama potongan bonggol pisang dan kapur sirih.
Mereka, lalu mencampurnya dengan air rendaman akar bambu (tiga hari rendaman), dan air rendaman beras. Rupanya, air rendaman beras yang akan digunakan masih kurang. Terpaksa, petani-petani itu kembali membuat air rendaman beras.
Campuran itu tak berhenti di situ saja. Petani masih mencampurkan tetes tebu untuk membantu fermentasi. “Campuran ini kemudian didiamkan selama dua pekan,” ungkap petani lain, Yustinus.
Setelah dua pekan, petani pun bisa menikmati hasilnya. 20 liter agen hayati yang dibuat bisa digunakan untuk menyemprot lahan seluas 20 hektare. Dalam setiap semprotan, petani-petani itu berharap tanamannya bisa tumbuh subur dan aman dari serangan hama yang berasal dari luar tanah.
“Kami ingin memakai cara alami untuk melindungi tanaman kami,” ujar Yustinus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Waspada Efek Perang Timur Tengah, Malaysia Perketat Keamanan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
- Operasi SAR Yunanta di Sungai Opak Resmi Ditutup Setelah 7 Hari
Advertisement
Advertisement




