TITIK NOL KILOMETER : Warga Keluhkan Bau Pesing dan Parkir yang Mengganggu Pemandangan

Warga mengamati patung tikus koruptor yang menggendong replika selembar uang kertas seratus ribu rupiah di kawasan Titik Nol Kilometer, Jogja, Senin (8/12/2014). Patung yang menggambarkan aksi korupsi di Indonesia itu dibuat dalam rangka peringatan Hari Anti Korupsi, Selasa (9/12/2014). Peringatan Hari Anti Korupsi itu akan diisi dengan berbagai macam kegiatan, seperti lelang barang grativikasi, kirab budaya dan konser Gropyokan Korupsi. (Desi Suryanto/JIBI - Harian Jogja)
20 Januari 2015 01:20 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Titik Nol Kilometer Jogja menjadi tempat tujuan wisata, namun warga mengeluhkan bau pesing dan parkir kendaraan yang mengganggu pemandangan
Harianjogja.com, JOGJA-Titik Nol Kota Jogja dikeluhkan pesing dan parkir yang mengganggu pemandangan.

Siang hari, halaman luar gedung Benteng Vredeburg penuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat yang parkir. Sementara itu, baik wisatawan maupun masyarakat Jogja yang kebetulan ada di sana, memanfaatkan kursi beton yang berada di bawah rindangnya tanaman di sepanjang Titik Nol untuk duduk-duduk dan bercengkerama.

Sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) nampak menjajakan dagangan mereka, makanan, minuman, hingga pernak-pernik khas Jogja.

Pada sore dan malam, aktivitas tak jauh berbeda, hanya saja, jumlah PKL semakin bertambah. Adanya sejumlah pengasong kopi, rokok turut meramaikan malam.

Sayangnya, kondisi tersebut tak sepenuhnya disukai warga Jogja. Seperti diungkapkan Handhi, warga Bantul, saat dijumpai Minggu (18/1/2015). Ketika ditanyai pendapatnya mengenai Titik Nol Kilometer Jogja.

"Pesing. Selain itu, parkiran roda dua di trotoar depan Kantor Pos Besar juga mengganggu pemandangan dan nampak muka dari bangunan, padahal kantor pos itu kan termasuk bangunan cagar budaya yang suka dijadikan objek foto," ungkapnya.

Handhi menyebut, tempat roda dua di atas trotoar tidak menjadi masalah. Masalahnya, tempat parkir tersebut berlokasi tepat di depan kantor pos besar Jogja, yang bagi para pecinta fotografi bisa mengganggu estetika wajah bangunan Kanto Pos Besar, sehingga tidak sedap dipandang mata.

Pemandangan sejumlah kendaraan yang berhenti di tempat yang sudah bertanda larangan parkir, membuat penampilan Titik Nol menjadi berantakan.

Tak hanya itu, ia juga mengeluhkan banyaknya pengamen di Titik Nol yang tak hanya sekedar bernyanyi, melainkan meminta 'upah' lagu secara memaksa.