PERTANIAN DIY : Pupuk Subsidi Seret, Terpaksa Pakai Non-subsidi

Ilustrasi Muhammad KhamdiMENANAM--Beberapa petani sedang menanam bibit tembakau di lahan persawahan Desa Tijayan, Manisrenggo, Jumat (10 - 6). Petani tembakau saat ini mengeluhkan tingginya harga bibit. SOLOPOS 13 JUN 2011 HAL V KLATEN
12 Maret 2015 16:20 WIB Kulonprogo Share :

Pertanian DIY, petani di Kulonprogo mengaku kesulitan mendapatkan pupuk non-subsidi.

Harianjogja.com, KULONPROGO-Sebagian besar petani di Kulonprogo masih bergantung pada pupuk nonsubsidi. Pasalnya, distribusi pupuk yang tersendat membuat petani tak mampu mengandalkan pupuk tersebut.

“Sementara ini distribusi lancar, tapi setelah tanam kadang kekurangan,” ujar Yukangsi, Sekretaris Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Sukabangun, Desa Ngentarejo, Kecamatan Lendah, Rabu (11/3/2015).

Yukangsi mengatakan kesulitan mendapatkan pupuk subsidi sering terjadi setelah tanaman berusia sekitar satu bulan. Padahal, setelah usia tersebut tanaman perlu pemupukan kembali. Pada kondisi tersebut, petani biasanya terpaksa menggunakan pupuk nonsubsidi.

Sementara itu, Sunardi, salah satu anggota Kelompok Tani Sidomulyo Desa Kedundang, Kecamatan Temon,
menambahkan, keterlambatan pupuk biasanya pun hanya sekitar dua hari sampai tiga hari saja.

“Meski begitu, saya berharap ketersediaan pupuk dapat terus diupayakan agar petani dapat lebih optimal mengolah pertanian,” ujar Sunardi.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulonprogo Tri Hidayatun mengatakan tahun ini total pupuk subsidi yang diajukan yakni 28.112 ton. Adapun kebutuhan pupuk subsidi tahun 2014 mencapai 21.120 ton yang terdiri dari lima jenis pupuk.

“Dari yang diajukan maupun kebutuhan pupuk yang ada tidak terlalu jauh,” kata Tri.