Kemenkes Perkuat Peran Bidan Tangani Mental Ibu Hamil
Kemenkes menyiapkan tiga langkah untuk memperkuat peran bidan dalam menangani kesehatan mental ibu hamil dan ibu menyusui.
Foto ilustrasi makanan dengan kemasan rusak dan kedaluwarsa sehingga tidak layak jual. Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI).
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Kesehatan Bantul melakukan penarikan makanan kemasan tidak layak jual dari sejumlah supermarket dan toko modern di wilayah Bantul setelah menemukan produk dengan kondisi kemasan rusak saat sidak keamanan pangan menjelang Lebaran 2026.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan pangan masyarakat, terutama produk yang biasa digunakan dalam parsel Lebaran.
Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Tri Widiyantara menjelaskan sidak keamanan pangan tersebut digelar pada 10–11 Maret 2026 di berbagai sarana distribusi makanan dan minuman di wilayah Bantul. Dalam pemeriksaan tersebut, petugas menemukan sejumlah makanan kaleng dengan kondisi kemasan peyok sehingga dinilai tidak layak dijual kepada konsumen.
"Untuk sidak makanan kemasan kaleng di supermarket (toko modern) beberapa waktu lalu, ada beberapa yang ditemukan peyok, jadi untuk kemasan yang tidak layak jual ini kita tarik semua," kata Agus Tri Widiyantara di Bantul, Sabtu (14/3/2026).
Meski ditemukan beberapa produk dengan kemasan rusak, Dinas Kesehatan Bantul memastikan jumlah produk yang ditarik tidak banyak. Petugas juga tidak menemukan makanan kemasan yang telah melewati masa kedaluwarsa dalam sidak tersebut.
"Sehingga yang dijual itu hanya yang kemasan layak jual, tidak peyok, kalau dari sisi kemasan tidak layak jual kita tarik semua, jumlahnya tidak banyak, sedangkan untuk kedaluwarsa dari hasil sidak kemarin tidak ada," katanya.
Selain pengawasan produk kemasan, Dinas Kesehatan Bantul juga melakukan pengawasan terhadap makanan takjil yang dijual di pasar Ramadan di Bantul. Kegiatan ini dilakukan bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta guna memastikan jajanan berbuka puasa aman dikonsumsi masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, petugas mengambil sejumlah sampel makanan untuk dilakukan pengujian laboratorium secara langsung di lokasi sekaligus memberikan edukasi kepada pedagang maupun pengunjung pasar Ramadan.
"Terdapat 10 sampel pangan yang diuji dengan hasil negatif dari bahan berbahaya, seperti boraks, formalin, rhodamin B, metanil yeloow," katanya.
Sampel makanan yang diperiksa meliputi berbagai jenis jajanan populer yang banyak dijual saat Ramadan, antara lain kue mochi, jelly ball, cincau, bakmie goreng, agar-agar, bakso, tahu bacem, es buah, bakso tusuk, dan udang keju.
"Hasilnya negatif, tidak ditemukan bahan berbahaya, sehingga dinyatakan aman untuk dikonsumsi," katanya.
Hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan makanan takjil yang diuji di pasar Ramadan Bantul tidak mengandung bahan kimia berbahaya, sehingga masyarakat dapat mengonsumsinya dengan aman selama bulan Ramadan, sementara pengawasan keamanan pangan oleh Dinas Kesehatan Bantul dan BBPOM Yogyakarta tetap dilakukan secara berkala di berbagai titik penjualan makanan di wilayah Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemenkes menyiapkan tiga langkah untuk memperkuat peran bidan dalam menangani kesehatan mental ibu hamil dan ibu menyusui.
Pemda DIY menjamin perlindungan 11 bayi yang dievakuasi dari day care ilegal di Sleman, termasuk biaya pengobatan dan pemulihan kesehatan.
Prabowo Subianto menyoroti eksportir sawit dan batu bara yang menyimpan devisa hasil ekspor di luar negeri, bukan di Indonesia.
Kejagung dalami dugaan jual beli LHP Ombudsman RI yang menyeret Ketua Ombudsman nonaktif Hery Susanto dalam kasus suap.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 14 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tersedia keberangkatan pagi sampai malam.
Kemenkop mempercepat operasional 37 ribu Kopdes Merah Putih dan menyiapkan Inpres untuk penguatan ekonomi desa.