18 Desa di Gunungkidul Bertarung

28 Maret 2015 15:22 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

18 Desa di Gunungkidul bertarung dalam Lomba Desa 2015

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar lomba desa terbaik 2015. Sebanyak 18 akan bertarung memperebutkan predikat tersebut, dan berhak mewakili kejuaraan yang sama tingkat provinsi.

Berdasarkan data Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Gunungkidul, desa yang terpilih antara lain Siraman, Wonosari; Ngloro, Saptosari; Ngipak, Karangmojo; Sumberwungu, Tepus. Untuk kecamatan Gedangsari diwakili Desa Ngalang, Patuk diserahkan Terbah.

Selanjutnya ada Desa Pacarejo, Semanu; Bandung, Playen; Giriasih, Purwosari; Sodo, Paliyan; Hargosari, Tanjungsari; Pucung, Girisubo; Pucanganom, Rongkop; Kedungpoh, Nglipar; Bulurejo, Semin; Tancep, Ngawen; Gombang, Ponjong; dan Desa Girimulyo, Kecamatan Panggang.

Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat, BPMPKB Gunungkidul, Rakhmadian Wijayanto mengatakan, dari seluruh peserta yang ikut akan disaring menjadi enam finalis. Selanjutnya, para finalis akan menjalani proses penilaian di lapangan oleh tim penilai.

“Rencananya tim terjun ke lapangan pada pertengahan bulan depan. Untuk saat ini, para peserta baru mengumpulkan berkas administrasi lomba,” kata Rakhmadian, Jumat (27/3/2015).

Dia menjelaskan, pemenang lomba berhak mewakili lomba yang sama di tingkat provinsi. Keuntungan lain mengikuti lomba tersebut, desa yang bersangkutan mendapatkan prioritas pembangunan di tahun berikutnya.

Lebih rinci diungkapkan Rakhmadian, penilaian desa terbaik berdasarkan pada beberapa kriteria. Indikator tersebut antara lain kelengkapan administrasi, keadaan penduduk seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi, kelengkapan profil desa, hingga keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Terpisah, Kepala Desa Pucung, Kecamatan Girisubo Bambang Untara mengakui sudah mengirimkan berkas administrasi untuk penilaian lomba. Namun demikian, secara pribadi, dia mengaku tidak berharap banyak bisa masuk keenam besar.

“Apalagi, saat ini masih masa bercocok tanam, sehingga fokus masyarakat lebih ke aktivitas menggarap lahan,” kata Bambang.