Advertisement
PENATAAN BANTUL : 40 PKL Wahid Hasyim Terancam Digusur
Advertisement
Penataan Bantul, sejatinya sudah ada zona PKL di Pasar Niten Bantul, namun mayoritas pedagang enggan dipindah ke lokasi yang disediakan pemerintah itu
Harianjogja.com, BANTUL—Puluhan pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di sepanjang Jalan Wahid Hasyim Kota Bantul terancam digusur. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul mulai Agustus ini akan membangun taman di sepanjang area operasi PKL.
Advertisement
Pembangunan taman di pinggir jalan yang membentang mulai dari simpang empat Palbapang hingga simpang empat Ghose Bantul itu akan menerabas puluhan lapak PKL yang telah bertahun-tahun berjualan di sana. Saat ini, tercatat ada 40 PKL yang menggantungkan hidup di Jalan Wahid Hasyim.
Senin (20/4/2015) siang kemarin, puluhan PKL itu dipanggil oleh Pemkab membahas rencana penertiban lapak dagangan menyusul adanya proyek pembangunan taman. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bantul, Hermawan Setiaji mengatakan, pertemuan itu untuk menyerap aspirasi para PKL.
Namun satu poin penting yang telah diputuskan dan tidak dapat ditolak adalah adanya larangan pendirian bangunan lapak PKL secara permanen.
"Tidak boleh ada lapak permanen, sementara harus bongkar pasang," kata Hermawan.
Kendati demikian, sampai sekarang belum diputuskan apakah para PKL itu ke depan diperbolehkan berjualan pada jam-jam tertentu atau dilarang sepenuhnya, alias bebas PKL selama 24 jam.
"Itu nanti akan dibahas lagi pada pertemuan berikutnya, yang jelas mulai sekarang bongkar pasang dulu lapaknya," ujar dia.
Pemkab Bantul, menurutnya juga belum menyediakan area relokasi baru untuk menampung 40 PKL tersebut. Sejatinya, kata Hermawan, sudah ada zona PKL di Pasar Niten Bantul, namun mayoritas pedagang enggan dipindah ke lokasi yang disediakan pemerintah itu.
Purwanto, salah seorang PKL mengungkapkan kekecewaannya bila harus dipindah dari tempatnya berjualan saat ini. Ia berharap pemerintah tetap memberinya ruang berjualan di Jalan Wahid Hasyim.
"Kami berharap pemerintah tetap mendengarkan suara rakyat kecil," ujar warga asal Kecamatan Dlingo, Bantul itu.
Bila keputusan terpahit mereka tetap digusur, pemerintah diminta menyiapkan area relokasi yang potensial untuk tempat berjualan.
"Kalau dipindah ke tempat baru yang tidak cocok kan repot, harus memulai lagi mencari pelanggan dari awal," kata penjual furniture itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Waspada Efek Perang Timur Tengah, Malaysia Perketat Keamanan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
- Operasi SAR Yunanta di Sungai Opak Resmi Ditutup Setelah 7 Hari
Advertisement
Advertisement




