PROSTITUSI BANTUL : Ups, Kios Parangtritis Jadi "Sarang" PSK

Ilustrasi kios pasar tradisonal yang dibiarkan mangkrak oleh pedagang pemegang hak gunanya. (JIBISolopos - Antara)
14 Mei 2015 23:20 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Prostitusi Bantul diduga tinggal di kios yang dibangun dari dana pemerintah.

Harianjogja.com, BANTUL- Ratusan kios di area relokasi Pantai Parangtritis kini berubah menjadi hunian para Pekerja Seks Komersial (PSK). Kios yang dibangun pemerintah dengan anggaran miliaran rupiah itu disewakan ke pihak ketiga secara ilegal.

Kepala Dusun Mancingan, Desa Parangtritis, Kretek, Bantul Handri Sarwoko mengungkapkan, kios yang dibangun pada masa Bupati Bantul Idham Samawi itu sudah mulai disewakan para pemiliknya (penerima bantuan kios) ke pihak ketiga sejak 2011.

Pasalnya kata dia, para pemilik kios mengaku dagangan mereka tidak laku semenjak dipindah ke area relokasi. Para pedaganga kaki lima itu mulanya berjualan di dekat bibir pantai dan dianggap mengganggu keindahan sehingga dipindah ke area relokasi.

Agar kios yang telah dibangun tidak sia-sia lalu disewakan ke pihak ketiga seharga Rp150.000-Rp200.000 per bulan.

"Total kios di area bagian barat dan timur jumlahnya lebih dari 100, sebagian ada yang masih digunakan untuk berjualan, tapi sekarang sebanyak 50% lebih yang disewakan," ungkap Handri Sarwoko ditemui, Rabu (13/5/2015).

Para penyewa kios itu mayoritas warga luar Jogja. Belakangan diketahui sebagian dari mereka bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) ada pula yang merangkap menjadi pemandu karaoke. Namun Handri mengklaim, para PSK itu tidak beroperasi di kios tempat tinggal mereka melainkan di tempat lain masih dalam area pantai Parangtritis.

"Mereka mainnya di luar, kios itu hanya untuk tempat tinggal atau tidur saja, kalau malam mereka mencari mangsa keluar. Ada yang di sekitar Cepuri Parangkusumo [situs budaya] atau tempat lain," ujarnya.