PEREDARAN BERAS PLASTIK : Ini Dampaknya Jika Mengkonsumsi

Beras yang diduga plastik dicoba dibakar. Hasilnya, beras yang diduga plastik berwarna hitam menggumpal seperti plastik, sedang beras biasa menjadi abu. (JIBI/Harian Jogja - Uli Febriarni)
24 Mei 2015 13:24 WIB Uli Febriarni Gunungkidul Share :

Peredaran beras plastik membahayakan kesehatan konsumen.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Beras yang diduga tercampur dengan 'beras plastik' dijumpai di kediaman Sunarmo, warga Dusun Duwet, Karangwuni, Rongkop, Gunungkidul. Berdasarkan keterangannya, beras tersebut telah menyebabkan gangguan pencernaan setelah dikonsumsi.

Beras yang diduga telah bercampur beras plastik itu bermerk C4 Super Rojo Lele, produksi UD.Wijaya-Pati. Ia dan istrinya mengolah beras tersebut dengan cara dicampur beras hasil panen. Dengan perbandingan 1 banding 3 beras jenis lokal hasil panennya.

Setelah mengonsumsi nasi yang berasal dari beras yang telah dibelinya sejak 5 Mei 2015 silam, Sunarmo mengaku sulit buang air besar.

"Padahal kalau nasi biasa sebelumnya, dengan sayur apapun, itu biasa saja, tapi kok beberapa hari ini, setelah makan beras ini, saya buang air besar
jadi susah," ujarnya, disambangi di kediamannya, Jumat (22/5/2015).

Ia mengatakan, beras tersebut dibelinya dengan harga Rp9.600 per kilogram dan sudah dikemas per 5 kg. Sunarmo mengungkapkan, ia mulai curiga dengan beras tersebut, terlebih beberapa waktu belakangan ramai dibicarakan mengenai adanya 'beras plastik'. Sehingga ia dan istrinya kemudian menguji coba dengan membakar beras yang mereka beli, dan beras hasil panen sendiri.

"Kalau beras yang saya beli, saya cuci itu licin. Lalu saya bakar, kalau beras hasil panen, dibakar jadi abu, kalau yang saya beli, jadi hitam dan menggumpal," ungkapnya, sembari mencoba kembali membakar beras.

Sementara itu Sularmi, warga lainnya yang turut ada di lokasi menambahkan, beras yang dibelinya dari sebuah warung tidak jauh dari rumahnya dengan merk Matahari Bumiraya, produksi UD.Wijaya, juga memiliki perbedaan dengan beras yang dia konsumsi selama ini.

Beras yang dibelinya dengan harga per kilogramnya Rp9.000 itu sesungguhnya sudah ia konsumsi sejak dua tahun dan tak bermasalah. Akan tetapi, beberapa hari ini terlihat berbeda.

Sejumlah perbedaan yang ia lihat, yakni ketika dicuci beras cenderung licin, dan air bekas cucian beras berwarna sangat putih.

"Putihnya seperti kalau mencuci gamping. Kalau sudah di magic jar, nasinya sangat lengket," tuturnya.

Yang lebih ia herankan, nasi yang baru ia masak pada pukul 11.00 WIB, sudah basi pada pukul 15.00 WIB. Tak hanya itu, ia juga mengatakan ketika dimakan, nasi tidak ada rasa apapun.

Sularmi menyatakan, untuk sementara ia memilih tidak mengkonsumsi beras tersebut dan memilih untuk mengkonsumsi beras hasil panen dan tidak dicampur beras tersebut.

Sementara itu untuk membuktikan beras tersebut, petugas Polsek Rongkop turut datang ke lokasi yang terletak di perbatasan Gunungkidul dengan Pracimantoro, Jateng.

Usai membakar beras yang diduga bercampur 'beras plastik', Kapolsek Rongkop AKP Sunarto mengutarakan, dibandingkan dengan beras yang biasa memang beda, beras ini [C4 Super Rojo Lele] menggumpal, sementara beras yang biasa menjadi abu. Ia dan anggota mengambil sampel beras untuk dikirim ke pihak terkait untuk diteliti.

Selanjutnya, pihaknya melakukan sidak ke dua buah toko yang dilaporkan Sunarmo sebagai penjual 'beras plastik', dan menyita sebungkus beras C4 Super Rojo Lele kemasan lima kilogram, serta nasi hasil olahan beras tersebut.

Salah satu penjual beras C4 Super Rojo Lele di kawasan Semugih, Rongkop, Erma, mengungkapkan beras tersebut didatangkan dari Pati. Dalam sepekan, ia menjual 25 karung beras merk C4 Super Rojo Lele berukuran lima kilogram, dan beras merk Matahari sebanyak 10 karung sepekan.

Dijumpai di kesempatan yang sama, Kepala Distribusi dan Perlindungan Konsumen Disperindagkoptam ESDM Kabupaten Gunungkidul, Supriyadi menerangkan, meski saat dibakar, beras memang menggumpal, pihaknya belum dapat memastikan bahwa beras tadi merupakan 'beras plastik'

"Akan tetap kami bawa sampelnya untuk diteliti di laboratorium, oleh pihak terkait," paparnya.