JBBA 2026: Ekonomi Berkelanjutan Penting bagi Korporasi dan Instansi
JBBA 2026 mendorong korporasi dan instansi publik mengadopsi ekonomi berkelanjutan sebagai strategi bisnis dan tata kelola.
Salah satu adegan dalam simulasi dan pelatihan mitigasi bencana yang digelar di sela Refleksi 9 Tahun Gempa Bumi DIY di Lapangan Paseban, Rabu (27/5/2015) sore. (JIBI/arian Jogja/Arief Junianto)
9 Tahun Gempa Jogja & Jateng diperingati dengan refleksi di Bantul.
Harianjogja.com, BANTUL-Sembilan tahun sudah gempa berkekuatan 5,9 skala richter (SR) tertanam di ingatan warga Bantul. Ketika itu, 27 Mei 2006, gempa yang berpusat di Samudera Hindia meluluhlantakkan DIY, termasuk Bantul sebagai wilayah yang terdekat dengan pusat gempa. Tak tanggung-tanggung, 5.737 jiwa melayang, puluhan bahkan ratusan ribu orang mengalami luka-luka, dan tak terhitung lagi berapa unit bangunan serta rumah warga yang rata dengan tanah.
Kini, masyarakat Bantul kembali menata hidupnya. Pembangunan demi pembangunan mereka rintis dari segala sektor, sejak hulu hingga hilir.Meski begitu, kenangan 9 tahun silam itu tak begitu saja mudah hilang. Terlebih bagi Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Bantul.
Leading sector penanganan bencana di Kabupaten Bantul ini terus bergerak. Mereka terus berupaya meningkatkan kesiagaan dan kesigapan masyarakat. Tentu saja, alasannya adalah lantaran tak mudah menangani bencana yang di suatu waktu terjadi hampir bersamaan di 17 kecamatan se-Bantul.
Itulah sebabnya, sebagai penanganan dini, mereka kemudian membentuk Desa Tangguh Bencana (DTB). Melalui program inilah, BPBD ingin memberikan edukasi kepada warga pentingnya peran warga dalam penanganan bencana.
"Jadi yang berperan penting dalam penanganan bencana itu bukan kami [BPBD Bantul], tapi justru masyarakat itu sendiri. Jadi mari kita hadapi bencana secara bersama-sama," ucap
Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto di sela acara Refleksi 9 Tahun Gempa Bumi DIY, di Lapangan Paseban, Rabu (27/5) sore. Hingga kini, Bantul telah memiliki setidaknya 10 DTB yang tersebar di sejumlah titik. Enam diantaranya berada di Kecamatan Kretek, Sanden, dan Srandakan yang notabene berada di pesisir pantai selatan. Yaitu, Desa Parangtritis, Donotirto, Tirtohargo, Srigading, Gadingsari, dan Poncosari. Keenam titik ini difokuskannya untuk penanganan bencana gempa dan tsunami.
Sedangkan 4 titik lainnya ada di Kecamatan Pleret, Bambanglipuro, Dlingo dan Piyungan, yakni masing-masing di Desa Srimulyo, Wonolelo,
Mulyodadi, dan Mangunan. "Kalau untuk 4 titik ini, fokusnya ada di longsor dan banjir," katanya.
Setiap tahunnya, DTB itu dipastikan akan terus bertambah. Target menyentuh seluruh kecamatan se-Bantul tentu menjadi mimpi BPBD Bantul. Dwi membayangkan, jika seluruh kecamatan memiliki DTB, ia yakin, jika terjadi bencana, jumlah korban jiwa dan luka-luka tentu akan lebih bisa ditekan.
"Karena tak usah menunggu petugas, masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukannya sebelum petugas datang," paparnya.
Tak hanya mengenang sekaligus merayakan kebangkitan masyarakat Bantul, di acara refleksi 9 tahun gempa bumi DIY itu, BPBD juga menggelar berbagai pelatihan mitigasi untuk masyarakat. Mulai dari banjir, longsor, kebakaran, tsunami, bahkan hingga gempa bumi sendiri.
Pelatihan mitigasi yang lebih mirip simulasi itu ditampilkan dalam bentuk yang nyaris riil. Sejumlah properti berbentuk rumah dan bangunan-bangunan pada umumnya membuat masyarakat yang mengikuti simulasi itu terasa seperti benar-benar sedang dalam keadaan darurat bencana.
Deputi Bidang Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Tri Budiarto yang turut hadir menyampaikan, kelemahan Indonesia hingga kini adalah pada buruknya perilaku dan pengelolaan terhadap kekayaan sumber daya alamnya.
"Perlu diketahui, sumber daya alam dan bencana itu saling berdekatan," tegasnya.
Bagi Tri, gempa bumi besar yang melanda DIY adalah bukti bahwa tanah yang dipijak masyarakat Bantul saat ini adalah tanah yang rawan bencana. Meski begitu, bukan berarti lantas masyarakat harus pasrah dan menyerah. Kesigapan ketika bencana adalah satu-satunya jalan untuk mengurangi resiko serta jumlah korban bencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disnakertrans Bantul mengukur ulang pekerjaan padat karya di 124 lokasi untuk memastikan hasil sesuai desain sebelum pembayaran upah pekerja.
Kemenhub mencatat 5.179 kali water bombing karhutla sejak April 2026. Sebanyak 2.458 penerbangan domestik terdampak sejak 11 Agustus.
Dispusip Bantul mengakui fasilitas perpustakaan SD belum merata. Keterbatasan ruang dan anggaran turut menghambat layanan perpustakaan keliling.
Realisasi anggaran MBG mencapai Rp153,2 triliun hingga September 2026. Program ini menjangkau 57 juta penerima manfaat dengan target 72,4 juta pada 2027.
Kiandra Ramadhipa turun ke posisi keenam Moto3 Junior 2026 setelah finis ke-10 di Misano akibat penalti enam detik.