Advertisement
PELABUHAN TANJUNG ADIKARTA : Antisipasi Sedimentasi, Pemasangan Jaring Diusulkan
Advertisement
Pelabuhan Tanjung Adikarta dijaga dengan mengurangi risiko sedimentasi.
Harianjogja.com, KULONPROGO - Pemerintah Kabupaten Kulonprogo mengharapkan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY memasang jaring sepanjang pemecah ombak untuk mengatasi sedimentasi pasir Pelabuhan Tanjung Adikarto.
Advertisement
Sekretaris Daerah (Sekda) Kulonprogo Astungkoro mengatakan saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan pengerukan alur pelayaran, namun tetap terjadi sedimentasi pasir yang disebabkan angin tenggara dari laut selatan.
"Solusinya, pemikiran pembuatan GT tambahan atau desain dulu seperti saat kunjungan Gubernur DIY ke Korea Selatan, yakni ada jaringan pengangkat pasir untuk mengatasi sedimentasi pasir. Ini baru studi," kata Astungkoro seperti dikutip dari Antara, Minggu (3/1/2016)
Menurut dia, persoalan Pelabuhan Tanjung Adikarto adalah keberanian nelayan masuk melalui celah alur pelayanan ke kolam pelabuhan.
"Persoalanya kembali ke nelayan yakni keberanian masuk di celah pintu pemecah alur. Setelah adanya pengerukan alur, pasir masuk lagi. Informasi dari nelayan, ada sedimentasi pasir yang tinggi," katanya.
Terkait perlunya pemasangan tiang pemancang di Pelabuhan Tanjung Adikarto, menurut dia, tidak diperlukan. Disana sudah ada tretapot yang beratnya 11 ton. Selain itu, masih menjadi pemikiran dari Dinas Kelautan dan Perikana (DKP)DIY adanya perbaikan tetrapot.
Ia berharap pelabuhan segera dioperasikan dalam waktu dekat. Sampai saat ini, anggaran untuk membangun pelabuhan dan infrastruktur penunjang lain mencapai ratusan miliar rupiah. Nilai investasi yang sangat besar untuk pembangunan pelabuhan ini.
"Kalau pelabuhan sudah beroperasi akan menimbulkan dampak ekonomi besar bagi masyarakat, mulai dari penangkapan ikan sampai industri perikanan," katanya.
Anggota Kelompok Nelayan Bogowonto Suparyono mengharapkan Pelabuhan Tanjung Adikarto segera dapat berfungsi, sehingga nelayan tidak harus mengangkat kapal ke bibir pantai, saat dan setelah melaut.
Ia mengatakan nelayan Bogowonto telah mendapat pelatihan mengoperasikan kapal besar di atas 10 grosston sebanyak enam kali. Setiap pelatihan, nelayan yang diikutkan 10 orang.
"Saat ini, nelayan Bogowonto sudah dapat mengoperasikan kapal besar bantuan pemerintah. Persoalannya, pelabuhan belum dapat beroperasi. Padahal, kalau sudah beroperasi, pendapatan nelayan akan meningkat tajam karena dapat melaut di laut lepas, sehingga hasil tangkapan jauh lebih banyak," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
Advertisement
Advertisement





