Advertisement
Enam Pengajar dari DIY Ikuti Wisuda di Hunan Normal University
Advertisement
Sebanyak enam pengajar di DIY mengikuti wisuda di Hunan Normal University
Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak enam guru (laoshi) Bahasa Mandarin asal DIY mengikuti wisuda yang diselenggarakan oleh Hunan Normal University pada 27 Desember 2015 lalu.
Advertisement
Sekjen Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Tionghoa (BKPBT) DIY Nicodemus Sanny mengungkapkan, keenam laoshi yang meraih gelar sarjana melalui program ini adalah Eliza Laoshi, Ineka Laoshi, Jenny Laoshi, Sanny Laoshi, Uji Laoshi, dan Wheilina Laoshi.
“Program ini saat ini masuk gelombang dua. Dengan program ini, diharapkan guru-guru yang mengajar bahasa Mandarin dapat terjamin kualitas dan fomalitasnya,” ujar dia, Senin (4/1/2016).
Ia menjelaskan, ada 77 guru Bahasa Mandarin yang diwisuda saat itu. Mereka resmi mendapatkan gelar Sarjana Sastra Bahasa Mandarin dari pemerintah Tiongkok setelah melalui masa kuliah sejak 2009.
Perjuangan yang harus ditempuh untuk mendapatkan gelar tersebut cukup melelahkan karena mereka harus menyelesaikan seluruh SKS yang diwajibkan baik di Indonesia maupun di Tiongkok. Mereka juga harus membuat skripsi sebagai syarat kelulusan.
“Sekarang laoshi-laoshi ini memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai sehingga dapat memenuhi persyaratan mengajar di bidang pendidikan formal,” kata dia.
Ia menjelaskan, program beasiswa ini diawali dengan adanya kewajiban setiap pengajar harus memiliki latar belakang lulusan ilmu pendidikan atau bidang yang sesuai mata pelajaran yang ditentukan oleh Pemerintahan Indonesia mulai tahun ajaran 2015.
Kenyataannya, banyak guru Bahasa Mandarin yang bukan dari latar belakang yang sesuai. Untuk itu, pemerintah Tiongkok memberi beasiswa sebanyak 100 orang kepada guru-guru Bahasa Mandarin di Indonesia untuk kuliah S1.
Adapun kampus yang ditunjuk adalah Hunan Normal University yakni kampus yang terletak di kota Changsha, Propinsi Hunan. Kampus ini termasuk 100 Perguruan Tinggi terbaik di Tiongkok.
Selama empat tahun, mereka mengikuti masa kuliah dengan pola dosennya yang datang ke Indonesia atau juga para guru harus ke Hunan karena peserta kuliah adalah para guru aktif di sekolah.
“Akhirnya ada 96 guru yang selesai masa kuliahnya, terakhir sampai pada pembuatan skripsi hanya 77 guru yang berhasil selesai dan meraih gelar sarjana,” jelas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Waspada Efek Perang Timur Tengah, Malaysia Perketat Keamanan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
- Operasi SAR Yunanta di Sungai Opak Resmi Ditutup Setelah 7 Hari
Advertisement
Advertisement




