Advertisement
KAMPUS JOGJA : Ada Dokter Cilik, Bagaimana dengan Apoteker Cilik?
Advertisement
Kampus Jogja, tepatnya dosen UGM menggagas adanya apoteker cilik.
Harianjogja.com, SLEMAN- Dosen Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Zullies Ikawati, didukung Triana Hetriani dan Agung Endro Nugroho, menggagas mengenai apoteker cilik. Program ini diperlukan untuk memberikan pengetahuan terhadap anak-anak mengenai obat-obatan
Advertisement
Zullies memulai program ini dengan dengan mengajak anak-anak di SD Luqmanul Hakim dan SDN Kentungan untuk mengenal obat-obatan, jajanan sehat dan obat tradisional melalui kegiatan ekstrakurikuler apoteker cilik.
“Masyarakat banyak yang belum mengenal apoteker. Melalui apoteker cilik ini kita berusaha untuk mengenalkan apoteker ke masyarakat. Jadi,
apoteker itu bagian dari kesehatan dan kita ini satu tim,” kata Zullies, Senin (4/1/2016) seperti dikutip dari rilis yang Harianjogja.com terima.
Didukung hibah penelitian dari Dikti, Zullies memulai pengajaran ini sejak Agustus 2015. Program ini juga dapat menjadi sinergi antara dokter cilik dan apoteker cilik.
Menurut Zullies selama ini informasi mengenai jajanan, narkoba dan jamu masih simpang siur. Terkadang masyarakat masih salah menafsirkan seperti apa jajanan tidak sehat itu, bagaimana bahaya narkoba dan bentuk jamu yang menyehatkan seperti apa. Melalui apoteker cilik ini diharapkan anak-anak dapat menjadi agen yang bisa meluruskan kesimpangsiuran itu.
Maskot & Komik Disiapkan
Menggandeng Pelayanan Informasi Obat Gadjah Mada (PIOGAMA), Zullies dan tim mengadakan sosialisasi ini setiap hari seusai anak-anak
pulang sekolah. Untuk lebih memudahkan pengajaran pengenalan mengenai obat-obatan ini, Zullies dan tim menggunakan tiga maskot, antara lain Jeksi, Tabby dan Kapsi.
Jeksi berasal dari kata Injeksi memiliki bentuk mirip alat suntik berwarna hijau. Tabby berasal dari kata Tablet bertindak sebagai tokoh perempuan berwarna merah muda. Kapsi berasal dari kata Kapsul dengan warna merah menyerupai obat yang berbentuk kapsul. Melalui boneka maskot ini, Zullies dan tim mudah mengenalkan dunia apoteker pada anak-anak.
“Sasaran kami kelas 5 SD, karena kelas 6 sedang sibuk menyiapkan ujian sekolah, lalu kelas 4 ke bawah masih terlalu kecil. Namun tidak menutup
kemungkinan jika mereka berminat untuk bergabung dengan kita,” papar Zullies.
Selain dibantu oleh maskot-maskot yang dibuat oleh tim, Zullies juga membuat komik apoteker cilik. Harapannya, buku komik ini bisa disosialisasikan
lebih jauh untuk anak-anak Indonesia. Dengan begitu, anak-anak bisa menjadi agen kesehatan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Waspada Efek Perang Timur Tengah, Malaysia Perketat Keamanan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- Belanja Pegawai Bantul Tembus 34 Persen Rekrutmen Dipangkas
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
Advertisement
Advertisement




