BANJIR KULONPROGO : Dapatkan Normalisasi Mencegah Banjir di Panjatan?

Seorang warga melintasi jembatan di atas Sungai Gunsero, tepatnya yang mengalir di wilayah Dusun II, Desa Gotakan, Kecamatan Panjatan, Kulonprogo, Jumat (5/2/2016). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
07 Februari 2016 20:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Banjir Kulonprogo mengancam warga di daerah Panjatan.

Harianjogja.com, KULONPROGO-Masyarakat di wilayah Kecamatan Panjatan, Kulonprogo, khususnya yang dilalui aliran Sungai Gunsero, diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir. Normalisasi Sungai Gunsero yang sudah dilakukan sejak pertengah tahun lalu diharapkan dapat mengurangi potensi bencana yang hampir setiap tahun menyerang wilayah tersebut.

Hal tersebut diungkapkan Camat Panjatan, Sudarmanto, Jumat (5/2/2016). Menurut dia, ada tiga desa yang termasuk wilayah rawan banjir, yaitu Gotakan, Cerme, dan Krembangan. Meski demikian, banjir juga sering meluas hingga wilayah Desa Tayuban, Kanoman, dan Bugel.

“Normalisasi sudah dilakukan sampai selatan Buk Begal di wilayah Krembangan,” kata Sudarmanto.

April 2015 lalu, bencana banjir melanda sejumlah kecamatan di Kulonprogo, antara lain Panjatan, Lendah, Galur, Pengasih, Sentolo, dan Wates. Namun, kondisi paling parah terjadi di Panjatan dengan ketinggian air mencapai satu meter. Sudarmanto mengungkapkan, saat itu ada sekitar 697 KK di Desa Gotakan, Krembangan, Cerme, Tayuban, dan Garongan yang rumahnya terendam. Ratusan hektar sawah yang tersebar di semua desa juga tidak luput dari banjir.

Sudarmanto kemudian berharap normalisasi bisa dilanjutkan lebih ke selatan hingga memasuki wilayah Kecamatan Galur untuk menekan kemungkinan terjadinya banjir. Meski demikian, dia hanya bisa mengusulkan dan menunggu karena wewenang normalisasi dipegang oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWSSO).

Sementara itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kulonprogo menilai tanaman eceng gondok yang banyak tumbuh di Sungai Gunsero maupun drainase dan irigasi di sekitar Panjatan dan Galur dapat menjadi pemicu banjir. Eceng gondok seharusnya dibersihkan secara berkala agar tidak menghambat aliran air.

“Eceng gondok ini harus segera ditangani. Kalau tidak, kami khawatir air sungai akan meluap ke lahan persawahan dan pemukiman warga jika terjadi hujan deras,” ungkap sekretaris Komisi II DPRD Kulonprogo, Suharmanta, usai melakukan peninjauan lapangan, Jumat siang.

Ketua Komisi II DPRD Kulonprogo, Muhtarom Asrori lalu berharap Pemkab Kulonprogo segera berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIY serta BBWSSO terkait penanganan eceng gondok.

“Setidaknya segera ada upaya untuk mencegah dan mengendalikan banjir,” ujar dia.