PATUNG SULTAN HB IX : Patung HB IX Dipindah Sesuai Keinginan Mendiang

Proses pemindahan patung HB IX (Gilang Jiwana/JIBI - Harian Jogja)
09 Februari 2016 17:29 WIB Jogja Share :

Patung Sultan HB IX dipindah ke Bangsal Kasatriyan Jogja

Harianjogja.com, JOGJA -- Sri Sultan Hamengku Buwono X meresmikan tempat baru http://www.harianjogja.com/baca/2016/02/08/patung-hb-ix-akhirnya-dipindahkan-689132" target="_blank">patung dada sang ayah yang sudah lama telantar di jalan Batikan Selasa (9/2/2016).

Sekarang patung yang menampilkan sosok Hamengku Buwono IX dalam pakaian pejuang itu siap menyambut setiap pengunjung yang mampir ke bangsal Kasatriyan Kraton Yogyakarta.

Pemasangan patung di kedudukan barunya itu dilakukan Senin (9/2/2016) malam. Sebelumnya kraton sudah menyiapkan dudukan berbahan batu yang sama dengan tulisan nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan nama pematung, Rustamaji di bagian bawah.

Patung yang diangkat dari depan rumah kontrakan nomor 666 itu pun bisa langsung diposisikan di atasnya. Kain pembungkus berwarna putih yang digunakan saat mengambil patung lantas diganti dengan kain kuning setelah pekerja selesai memosisikan patung sesuai dengan keinginan HB IX.

Pagi harinya, diiringi doa dari abdi dalem Punakawan Kaji, HB X membuka selubung patung yang sudah ditebari rangkaian bunga melati dan kembang setaman. Momen ini sekaligus menandai diresmikannya tempat baru bagi patung yang selama sekitar 63 tahun menyaksikan perkembangan kawasan Batikan.

Sultan mengatakan, keinginan untuk mengapresiasi dan melestarikan patung dada itu sebenarnya datang dari sang ayah. Sebelum HB IX mangkat, dia sempat berpesan pada Sultan untuk mencari patung dirinya di depan markas Koramil Pakualaman.

“Saya sempat mencarinya tapi tidak ketemu dan akhirnya sempat terlupa,” ujar Gubernur DIY itu.

Baru enam bulan lalu, dirinya teringat dan mendapatkan kabar bahwa patung itu dipindahkan ke posisi terakhirnya di jalan Batikan. Sultan mengatkan pihaknya lantas meminta izin ke keluarga Rustamaji untuk memindahkan patung itu ke tempat yang lebih layak.

“Daripada dianggap hanya diletakkan di bawah, saya taruh di asna [Kasatriyan], di tempat yang direncanakan beliau [HB IX] sendiri,” tutur dia.