KULINER BANTUL : Emping Melinjo dan Ubi Ungu Bisa Tembus ASEAN

Ilustrasi perajin emping belinjo (Burhan Aris Nugraha/JIBI - Solopos)
15 Februari 2016 01:19 WIB Redaksi Solopos Bantul Share :

Kuliner Bantul bisa bersaing menghadapi MEA

Harianjogja.com, BANTUL-Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menilai sejumlah produk kuliner dari industri kecil di daerah ini potensial bersaing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

"Di industri makanan Kabupaten Bantul punya emping dan makanan olahan ubi ungu, itu potensial untuk bersaing dengan produk dari negara-negara ASEAN," kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Bantul, Sulistyanto di Bantul, Minggu (14/2/2016).

Emping merupakan camilan yang disajikan dengan rasa gurih, dan di Bantul menurutnya terdapat sentra emping melinjo di wilayah Banguntapan, sementara ubi ungu di Bantul diolah menjadi kue kering juga isi dari makanan khas bakpia.

Ia mengatakan, meski dinilai mampu bersaing dengan produk sejenis dari ASEAN, namun selain bakpia menurutnya masih ada kelemahan yaitu belum ada sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), meski diakui bahan baku dan proses pembuatan sudah sesuai ajaran Islam.

"Kalau di negara tetangga misalnya Malaysia kan harus halal, makanya kelemahannya di situ, karena belum ada, padahal itu penting. Kami harap ke depan bisa lebih bagus lagi, salah satunya halal," katanya, seperti dikutip dari Antara.

Untuk mendorong pelaku industri kuliner tersebut dalam menghadapi MEA tersebut, ia mengatakan pada tahun anggaran 2016, lembaganya juga akan memberikan pembinaan terkait dengan sertifikasi halal pada sejumlah produk kuliner itu.

"Ini [pembinaan] juga salah satu upaya memperkuat daya saing dengan produk serupa dari negara lain, pada intinya produk Bantul selain dicintai masyarakat Bantul juga dicintai masyarakat ASEAN," katanya.

Sementara itu, ia juga mengatakan, di era perdagangan bebas negara-negara ASEAN ini terdapat dua hal utama yang perlu dilakukan, pertama, penguatan kualitas produk pelaku usaha mikro kecil baik itu kuliner maupun barang kerajinan.

"Kemudian dari sisi ekspansi agar bagaimana produk kita [Bantul] bisa dijual ke luar, karena kalau yang menengah atas tentu [produk] sudah ekspor. Jadi, tinggal bagaimana upaya pemerintah menangkap peluang itu," katanya.