TANAH LONGSOR SLEMAN : Curah Hujan Tinggi, Waspadai "Tanah Bergerak" di Prambanan

Kondisi bukit setinggi 70 meter dengan lebar 100 meter di RT 3 RW 9 Dusun Lemahbang, Gayamharjo, Prambanan, Sleman yang longsor pada Senin (9/2). Foto diambil pada Selasa (10/2/2015) siang. (JIBI/Harian Jogja - Rima Sekarani I.N.)
18 Februari 2016 17:20 WIB Sunartono Sleman Share :

Tanah longsor Sleman diantisipasi terutama di wilayah Prambanan

Harianjogja.com, SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mengantisipasi kemungkinan adanya pergerakan tanah dengan memantau early warning system (EWS) yang sudah terpasang.

Berdasarkan identifikasi BPBD, ada ratusan kepala keluarga (KK) yang sewaktu-waktu terancam tanah longsor.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan menegaskan, pihaknya terus memantau kemungkinan terjadinya pergerakan tanah di perbukitan Prambanan seiring dengan tingginya curah hujan akhir-akhir ini.

Pemantauan dilakukan selama 24 jam melalui EWS yang terpasang di lokasi di Prambanan. Antara lain di Desa Wukirharjo, kemudian di Dusun Gayam Desa Gayamharjo dan di Dusun Gunungcilik Desa Sambirejo.

"Kondisi perbukitan yang curam sehingga saat hujan deras harus diantisipasi. Maka kami pantau melalui EWS," terang Makwan, Rabu (17/2/2016).

Jika terjadi pergerakan tanah, maka EWS secara otomatis akan mengirim data dengan sistem telematri atau pengukuran jarak jauh. Data tersebut bisa dimonitor di Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD DIY.

Data tersebut kemudian diteruskan ke BPBD Sleman untuk segera diinformasikan ke seluruh masyarakat di sekitar lokasi EWS untuk segera melakukan tindakan antisipasi longsor.

Dari hasil pantauan pekan ini, lanjutnya, meski curah hujan tergolong tinggi namun kondisi perbukitan Prambanan dinilai masih aman dan tidak ada tanda-tanda pergerakan tanah. "Sampai saat ini masih aman-aman saja," ujarnya.