DANA KEISTIMEWAAN DIY : Danais untuk Kulonprogo Turun, Penggunaan Dioptimalkan

Gedung Taman Budaya Kulonprogo di Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo tampak lengang dari aktivitas para pekerja proyek, Kamis (10/12/2015). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
18 Februari 2016 02:20 WIB Redaksi Solopos Kulonprogo Share :

Dana keistimewaan DIY untuk Kabupaten Kulonprogo turun, namun penggunaannya akan dioptimalkan

Harianjogja.com, KULONPROGO- Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta mengoptimalkan penggunaan dana keistimewaan sebesar Rp12 miliar, meski ada penurunan sekitar 50% dari sebelumnya Rp24 miliar.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Untung Waluyo mengatakan penurunan dana keistimewaan (danais) bukan karena penyerapan rendah atau kurang bagus.

"Berdasarkan informasi penyerapan danais, Kulonprogo terbaik di DIY. Hanya ada skala prioritas oleh Pemda DIY, sehingga alokasi danais untuk Kulonprogo dan Kota Jogja turun," kata Untung, seperti dikutip dari Antara.

Namun demikian, ia berharap pada 2017 dengan sumber daya manusia (SDM) dan lembaga baru, sekaligus kesiapan Kulonprogo lebih siap, danais dinaikan.

Ia juga mengatakan pihaknya sudah rapat koordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Pada 2017, rencananya penggunaan danais tidak hanya menyangkut kebudayaan, tapi juga tata ruang, perhubungan, pendidikan dan infrastruktur fasilitas umum pariwisata.

Masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang mendesain perencanaan untuk 2017.

"Kami sudah mengadakan rapat internal untuk mendesain rencana kerja Disbud dari 2017 hingga 2022 atau program lima tahunan. Teman-teman masih merancang desainnya," katanya.

Untung mengatakan Disbud tidak fokus pada satu agenda, tapi berbagai macam agenda, baik tradisi, kesenian dan benda-benda bersejarah, serta karya-karya monumental. Sampai saat ini, Kulonprogo belum memiliki kampung tradisi, hal ini menjadi perhatian Disbud.

"Kami akan menunjuk suatu wilayah menjadi kampung tradisi. Kami juga membangun taman raja-raja nusantara dan balai budaya," katanya.

Ia mengharapkan setiap desa memiliki kesenian unggulan, begitu juga kecamatan. Disbud akan melakukan advokasi atau pendampingan terhadap desa yang akan mengembangkan kesenian unggulannya.

"Jadi sebarannya menyebar, baik yang bersifat tradisi dan modern. Tetapi tidak terlepas dari nilai-nilai budaya itu sendiri," katanya.

Anggota Komisi IV DPRD Kulonprogo Agung Raharjo mengharapkan danais jangan hanya digunakan untuk kegiatan pertunjukan, tetapi bagaimana memberdayakan kesenian masyarakat supaya lebih bermanfaat dan meningkatkan perekonomian warga.

"Selama ini, danais hanya untuk kegiatan pertunjukan kesenian. Kami berharap penggunaan anggaran lebih proporsional," katanya.