BANDARA KULONPROGO : Polres Kulonprogo Tegaskan Tidak Ada Aksi Kekerasan, Ini Penjelasannya

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Solidaritas Tolak Bandara melakukan aksi teatrikal di depan DPRD DIY, Jl. Malioboro, Jogja, Jumat (19/2). Mereka memprotes tindakan represifitas oleh aparat saat melakukan pengawalan pengukuran tanah lokasi bandara baru pada 16 Februari lalu. (HArianJogja - Gigih M. Hanafi)
19 Februari 2016 20:55 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Bandara Kulonprogo menimbulkan gejolak, setelah dalam aksi penolakan warga diduga ada kekerasan yang dilakukan aparat

Harianjogja.com, KULONPROGO- Polres Kulonprogo siap menghadapi laporan Wahana Tri Tunggal (WTT) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) terkait sistem pengamanan kegiatan pemasangan dan perapatan patok bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di wilayah Desa Glagah dan Palihan, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Selasa (16/2/2016) lalu.

Polres Kulonprogo bakal menyiapkan bukti-bukti pendukung yang menegaskan jika tidak ada aksi kekerasan yang sengaja dilakukan oleh petugas.

Hal itu disampaikan Wakapolres Kulonprogo, Kompol Andreas Deddy Wijaya, Jumat (19/2/2016). “Tidak ada aksi kekerasan. Kami ada dokumen yang menunjukkan jika petugas hanya bertahan dan meminta mereka untuk mundur,” tegas dia.

Andre mengatakan, pengamanan yang dilakukan petugas kepolisian sudah sesuai standar operasional prosedur (SOP). Tim juga sudah menaati tahapan dalam SOP, salah satunya dengan menyampaikan imbauan kepada warga secara berulang agar bersikap kooperatif. “Dorong-doroangan itu hal biasa. Begitu pula jika ada perbedaan persepsi,” ucap Andre.

Andre lalu memaparkan, ada beberapa tahapan setelah imbauan lisan yang diatur dalam Peraturan Kapolri No.1/2009 tentang Penggunaan Kekuatan. Senjata api bahkan bisa digunakan jika situasi di lapangan dianggap sudah tidak terkendali. “Tapi kemarin tidak ada penggunaan senjata api maupun tongkat,” ujarnya.